Translate

Senin, 14 Desember 2020

Kita Itu Urutan Kancing Baju

Kemarin, aku menemukan buku lama kita, bukti bahwa kita pernah punya cerita berdua. 

Setelah sekian lama aku tidak berani buka, pelan-pelan kubalik lembar demi lembar, isinya kisah kita. 

Sempat aku resapi setiap kalimat yang kita tulis bersama, bisa kutahu ada rasa di setiap katanya.

Ingatanku berkelana pada beberapa tahun lalu, saat kita masih sangat belia. 

Terlalu banyak peristiwa yang hanya untuk kita saja. 

Masih teringat masa kita saling suka, menahan diri agar tidak jatuh cinta, menghilang tidak bertegur sapa, saling membalas luka, dan akhirnya sama-sama menerima bahwa nyatanya kita tidak ditakdirkan bersama sebagai pecinta.

Di tengah membaca puisi-puisi karya kita, aku kembali pada peristiwa kita zaman SMA, kita suka pergi ke taman berdua, melihat bintang di malam hari, duduk di tepi air mancur, mendengarkan musik yang berkumandang di sela tawa dan cerita kita. Di taman itu, kita saling berbagi mimpi, kita saling mengagumi. Kamu adalah orang yang membuatku sadar bahwa aku bisa dicintai sebagai apa adanya aku. 

Aku juga ingat beberapa kali kamu muncul di depan sekolahku, menjemputku pulang di hari Sabtu. "Aku mau les biola sama kakakmu." begitu alibimu, meski itu hanya alasan, aku tahu. 

Aku ingat kita pergi ke taman naik motor berdua, itu saja sudah romantis rasanya. Di tengah perjalanan kita bisa saling bicara, dan aku ingat kamu bilang padaku, "Mungkin kita memang tidak bisa bersama, aku mau bisa terus cerita sama kamu, mengeluh sama kamu, jadi, masa aku cerita sama kamu tentang kamu?" Dan aku setuju. Detik itu kita sama-sama tahu, semesta merajut kisah asmara yang berbeda bagi kita berdua.

Memoriku juga tiba pada saat kamu tiba-tiba meneleponku tengah malam, minta ditemani.  "Maaf aku telepon tengah malam." Begitu katamu, kamu tidak baik-baik saja karena kudengar resah dalam suaramu dan aku tahu kamu cuma perlu yakin bahwa aku ada. Demikian, kita berjam-jam terdiam, hingga sama-sama terlelap. 

Kemarin juga, namamu tiba-tiba muncul di layar telepon genggamku.

Kamu cerita panjang, aku hanya mendengarkan; intinya, kamu mengundang.

Kamu akhirnya menemukan pelabuhan hati terakhirmu, dan kamu siap menurunkan jangkar untuk kapalmu merapat. 

Mendengar undangan hari bahagiamu, aku terdiam. 

Aku ingat setahun lalu kamu ajak aku ke kafe berdua, setelah bertahun-tahun tidak pernah pergi bersama. Kamu cerita tentang dia, orang yang akhirnya membuatmu yakin manusia diciptakan berpasangan. Kamu ungkapkan kegelisahan hatimu tentang hidup berkeluarga. Aku ingat aku hanya diam mendengarkan, sesekali menepuk pundakmu atau memegang tanganmu untuk menenangkan. Aku ingat kamu tanya, "kamu nggak apa-apa kalau aku menikah duluan?" Aku ingat aku menggeleng, tersenyum, dan menatap matanya, "Seperti yang dulu-dulu, aku bahagia kalau kamu bahagia." Tapi setelah kurenungkan lagi, kata-kataku seperti dusta. 

Saat kamu kemarin mengundangku, tubuhku membeku, lidahku kelu. Harusnya aku sudah bisa tahu, akan datang hari itu. Mendengarmu bicara melalui telepon itu, aku tahu ini terakhir kalinya namamu muncul di layarku. Aku tidak bisa lagi bebas menghubungimu, tiba-tiba mencurahkan isi hatiku, marah-marah, atau sekedar bilang, "aku kangen kamu." 

Seketika aku sedih, aku merasa kehilangan kamu. Protes, "Terus bagaimana dengan aku?" 

Tapi kemudian aku sadar sesuatu, 

Mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersatu, kita itu seperti urutan kancing baju, kita saling menunggu, tapi tidak pernah bertemu. 

Pada akhirnya, satu hal yang kutahu, selalu ada sayang buatmu, dan selalu ada rasa sayang untukku. Dan karena itu, aku melakukan aksi cinta yang paling tinggi buatmu, mendoakanmu selalu bahagia, seperti yang dulu dulu. 


Sabtu, 29 Agustus 2020

Aku Bebas

Tadi aku ketemu kamu. 

Tapi ternyata, baru kusadari aku tidak serindu itu. 

Sendi tubuhku tidak tertarik bergerak menghampirimu. 

Bibirku tidak berusaha mengucapkan kata untuk menyapa. 

Raut wajahku pun tidak melembut, semakin dingin, menyerupai rautmu. 

Aku banyak menunduk, tidak ingin melihat wajahmu. 

Seperkian waktu tadi, sempat ada aliran listrik statis menyergapku ketika aku merasakan hadirmu. 

Aku masuk ke dalam diri lebih jauh, mengukur rasa yang kusisihkan untukmu. 

Semakin aku menyelam, ternyata rasaku padamu sudah semakin padam. 

Saat semua rasa kembali netral, aku melihatmu, benar-benar melihatmu, dan ku tahu rasamu untukku pun sudah hilang. 

Sakitkah aku? Ternyata tidak terlalu. 

Ternyata aku bisa tersenyum padamu, tetap memberi perhatian tanpa harus takut kembali punya rasa. 

Lalu kubisa rasakan pundakku melemas, aku tahu aku siap melepaskan beban berat yang selama ini aku pilih untuk dipikul, aku bebas. 



Selasa, 25 Agustus 2020

A Letter to You. Happy Birthday!

 Hi you, the young girl with an ear-to-ear smile, itʻs been a long time not to speak to you directly. Happy birthday. Wishing you are proud of what youʻve become. Remember those days when we were dreaming of the path weʻre on today? Yes, dear, youʻve made it so far, youʻre on the track. May everything that happened these years made you wiser and more humble. You are already a quarter-century age, mature enough to be called an adult, but I hope the child spirit stays within.  Life was harder recently, right? But thank you for being resilient and keep moving on even there were so many rocks along the way. 

I also want to apologize for the hard times I put you. Sorry for making you toxic in some relationships you got in. For years, I always desperately need someoneʻs love to fill in the big hole inside, to ease your loneliness. I was wrong. You donʻt need anyone else, but me. I was too busy taking care of others, forgot you also need to be taken care of too. I was too arrogant, feel I know all about you, without sensing every sign you gave. Sorry for ignoring the crying days, the red flags you were forced me to notice.   

I also want to say sorry for every bad thing I said to you, decreasing your self-worth. From now on, I will try my best to love you more, hug you more, listen to you more. Donʻt let anything, or anyone dims your light. Shine on. Please keep in mind that you donʻt need to be somebody else, you are enough. 

Enjoy your day, dear me. I promise to make your beautiful ear-to-ear smile stays. May the world grants you much love, happiness, and peace as your warmth spreads all around! 


25/8/1995-25/8/2020

Kamis, 02 Juli 2020

Tamu

Kemarin pagi, tiba-tiba kamu menyapaku, 
Buatku kaget, biasanya kamu tidak begitu. 
Makin terkejut, karena kamu tiba-tiba tanya padaku
"Sedang banyak pikiran ya kamu?"

Jariku diam, aku membisu. 
"Kok kamu tahu? Kamu cenayang, ya? Takut aku." 
Begitu jawabku. 
Kulihat kamu membalas pesanku, "Tidak, aku hanya tahu." 

Aku cerita kalau perasaan tidak berhargaku sedang bertamu. 
Sudah beberapa hari dia datang, berlarian, kadang mengganggu. 

"Ini kan bukan pertama kali buatmu?" 
"Kali ini, kamu mengundangnya datang atau dia tiba-tiba sudah di depan pintu?" 
"Tidak bisa kamu usir dia pergi jauh-jauh seperti yang dulu-dulu?" 
Banyak sekali tanyamu. 

Sejenak aku termenung, membaca semua kata-katamu.  
"Mungkin benar katamu, memang aku yang bukakan pintu." 
"Tapi aku sudah tidak mau usir dia seperti dulu." 
"Aku mau beri sambutan hangat, peluk erat-erat, bisa jadi memang dia sinyal jeda bagiku." 
"Biarkan dia bergerak hingga bosan, lalu kuyakin dia akan mulai diam meski tetap berdiri di sudut hingga berdebu." 

Kali ini, kamu yang diam membisu.. 

Senin, 29 Juni 2020

Tidak Lagi Memiliki

Suatu hari, aku bertanya dalam hati,
Apa yang paling sulit dari tidak lagi memiliki?
Aku sampai diam berkontemplasi, berhari-hari
Lalu aku membuka mata dan menemukan jawab dari pertanyaan ini.
Melepaskan dan merelakannya pergi.

Kemudian aku bertanya lagi
Mengapa melepaskan itu sulit sekali?
Kembali aku bermeditasi, berusaha mencari jawab dalam diri.

Kamu sulit melepaskan karena selama ini kamu beri semua energimu untuk investasi.
Tapi ketika apapun itu tidak lagi bisa kamu genggam dan tidak dapat kembali,
Kamu kecewa, marah, dan mungkin mengutuk diri.
Penasaran, lalu kamu coba lagi.
Membuat lukanya semakin pedih karena digarami.

Kali ini semesta mengajakku diskusi.
Semuanya bilang, sebenarnya kamu tidak punya apa-apa di dunia ini.
Semua hanya dipinjamkan, diberi padamu sebagai titipan.
Ketika kamu kehilangan, ditinggalkan, atau justru kamu yang meninggalkan, berarti memang sudah habis masanya untuk kamu nikmati.
Lalu kenapa kamu merasa kehilangan dan sulit melepaskan?

Aku terkesiap, sejenak murka namun aku sadar.
Ada kelegaan, kepalanku mengendur, amarahku pudar.
Jika tidak ada satu hal pun yang sebetulnya aku miliki seutuhnya, sebenarnya aku tidak pernah kehilangan apapun selama ini.
Maka aku mulai melepaskan, mengamatimu menghilang hingga tinggal bayang...

Minggu, 07 Juni 2020

Akhir Cerita

Tidak semua cerita pasti berakhir bahagia.
Beberapa kisah bisa jadi ditutup kecewa.
Memang ketika kita sudah tahu akan berduka, kita berharap di belakang kalimat ada koma, dan dilanjut lagi dengan kata yang menenangkan jiwa.
Hanya saja, tidak semua ujung bisa kita beri jeda.
Saat sudah menemui titik, itu dia akhirnya, suka tidak suka.

Sama seperti jalan hidup kita.
Kita boleh saja berharap semua akan baik-baik saja.
Realitanya?
Sering kali kita justru lebih banyak menangis daripada tertawa.
Belajar menerima akhir cerita yang tidak kita inginkan pasti sulit dan rasanya hilang asa.
Tapi coba kita keluar bersama dan lihat seluruh plot yang ada.
Tarik napas, sadari bahwa entah mau seperti apa di ujungnya, ada hal yang hanya bisa kita terima, tidak mungkin berubah sekeras apapun kita mencoba.
Mungkin kita cuma bisa belajar menarik makna dari setiap peristiwa, suka tidak suka.
Yakini bahwa seluruh bagian perjalanan yang mungkin banyak dukanya, adalah cara semesta mengajarkanmu semakin dewasa.

Selasa, 02 Juni 2020

...

Kalau kita ketemu lagi, 
aku pingin peluk kamu kencang-kencang sampai rasa sesak ini hilang.

Kalau kita ketemu lagi suatu hari, 
aku harap bau parfummu masih sama seperti terakhir kita jumpa Natal tahun lalu. 
Kubayangkan kamu masih akan pakai jeans biru yang kamu banggakan dipadu dengan sweater biru hitam abu. 
Dan aku, tetap dengan jeans warna gelap dan kaus kesayanganku. 
Kita akan duduk di restoran kecil tempat biasa kita buat janji temu setiap Sabtu, lalu kamu akan pesan sayur yang akan kamu paksa aku untuk ikut makan itu. 
Lalu setelah makan, kita akan duduk bertopang dagu, mengobrol hingga tidak ingat waktu. 
Ketika kita sudah merasa terusir karena tiba-tiba tempat itu banyak tamu, kita pindah ke kafe di seberang jalan, pilih tempat terpencil di pojokan, tempat kita bisa bicara tanpa orang lain tahu. 
Kemudian setelah kita sadar sudah lewat jam sepuluh, kita akan diam sejenak, aku pesan ojek online, kamu menunggu. 
Saat tumpanganku datang, sepertinya kita akan berhadapan, seperti yang lalu-lalu, berdiri canggung dengan tangan yang setengah membuka, satu kaki maju, ingin peluk tapi ragu.  
Bisa kubayangkan lagi, setelah beberapa detik saling pandang, kamu akan tersenyum, mengacak rambutku, dan seperti yang dulu-dulu, kamu akan katakan, "hati-hati di jalan, jangan lupa kabari aku."   

Rabu, 27 Mei 2020

Saat Hujan

Malam ini deras sekali hujan turun
Terasa dingin hingga kaca jendelaku berembun
Sama seperti malam-malam saat bulir air membasahi daun,
Aku menghirup bau tanah basah sambil merenung...

Kali ini aku mempertanyakan kenapa manusia cepat sekali menghilang
Sekejap mata aku berkedip, ia pergi, tanpa bayang
Padahal kuingat baru kemarin ia mengetuk, mencoba masuk
Baru sempat kuintip ia dari balik jendela, mengamati apakah ia cukup sabar hingga ku siap terbuka

Aku menggeleng-geleng, aku tak mengerti
Aku baru kenal seujung jari
Kuakui ia memang berani
Ia mencari, tapi setelah rasa penasarannya terpenuhi, ia pergi

Seiring hujan mereda, aku juga mundur perlahan
Sudahlah hati, kataku pelan
Kau baru saja diselamatkan
Biarkan ia pergi, mumpung kunci belum kau berikan
Yakini suatu hari nanti, saat waktunya tiba, akan ada lagi yang datang, bertahan meski badai menghadang, dan akhirnya mau menemaniku memandang hujan... 

Selasa, 19 Mei 2020

--

Kalau kamu sedang membenci dirimu sendiri karena menurutmu hal yang kamu impikan tidak tercapai, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian.  
Kalau kamu merasa hatimu mengkhianati pikirmu, percayalah di luar sana ada yang juga merasakan. 
Kalau kamu berpikir hidupmu tidak berguna karena semua yang kamu lakukan seakan sia-sia, aku pun pernah memiliki rasa yang sama meski tidak kukatakan. 

Sadari, terima perasaan benci, terkhianati, dan sia-sia ini. 
Memaafkan diri memang tidak semudah memaki diri sendiri. 
Tarik nafas, yakini bahwa semua ini memang fase yang harus dilewati. 
Peluk semua sedihmu, bencimu, kecewamu, rasa marah pada dirimu, pada dunia ini. 
Ajak mereka berdamai, berikan kasih sayang pada semua emosi yang sebelumnya berusaha tidak kamu akui, agar mereka berhenti berontak dalam diri.
Semua emosimu, boleh datang dan pergi sesuka hati. 
Tapi kamu, tidak perlu selalu lari. 
Kamu, tetap bisa tegak berdiri.


-Reminder, kita semua memang sedang dalam masa yang sulit, semua serba tidak pasti, tapi kita punya kesempatan lebih untuk lebih menyayangi diri, terima semua emosi yang hadir, datang dan pergi.-

Kamis, 09 Januari 2020

Aku Kangen!

Hai! Kamu yang di sana, yang mungkin sedang berdendang ria, bercanda tawa, atau dirundung duka lara. Aku kangen! 

Lagi-lagi, aku menemukan sedikit luka pada hati karena mungkin aku jatuh cinta. Akan tetapi, tak kusangka masa bersamamu tampaknya terlalu mudah kau lupa. Tidak kusangka kamu yang dulu hangat dan memberiku rasa nyaman seperti berselimut saat dinginnya hujan, kini dingin dan seolah ingin mendorongku sejauh mungkin. 

Tahukah kamu, aku kangen!
Aku kangen bercanda di tengah percikan air kolam renang yang kita lakukan setiap akhir pekan. 
Aku kangen ceritamu tentang hari-hari menyebalkan bersama bosmu ketika kita menghabiskan siang di tempat makan. 
Aku kangen merencanakan akan dipanggil apa aku jika aku sudah pasti bersamamu suatu saat nanti. 
Aku kangen tatapan matamu saat mendengarkan celotehan membosankanku saat kita duduk berdua, menghabiskan malam Minggu yang aku nanti tanpa kusadari. 
Satu hal yang pasti, tampaknya semua hal itu tidak akan terjadi lagi. 
Aku kangen! 

Tapi, baiknya kutahan saja rasa kangenku ini ya? 
Aku takut jika ku mencari, kamu makin sembunyi, lalu menjauh pergi. 
Baiknya kangenku kutitipkan pada angin yang membelaimu mesra hari ini, dan kulambungkan dalam doa yang kupanjatkan malam ini. 

Aku kangen!