Translate

Selasa, 30 April 2013

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. 
Mereka adalah manusia biasa. Sekelompok remaja yang baru saja selesai ujian negara. Sekelompok remaja yang baru menuntaskan kewajiban belajar 12 tahun, dan kini berkumpul bersama berbagi cerita. Sekelompok remaja yang tumbuh bersama. Sekelompok remaja biasa yang entah bagaimana caranya, menemukan sendiri apa itu bahagia. Dari sisi perspektif masing-masing pribadi. Ya, mereka menemukan bahwa menjadi bahagia sangatlah sederhana.

"Bahagia itu sederhana," kata Gadis. "Sederhana?" Ayu cekikikan. "Iya, sederhana. Banyak hal sepele di dunia ini yang bisa dengan mudah membuat kita bahagia, " tukas Gadis mengeraskan wajahnya, memberi tanda ada keseriusan pada nada suaranya. "Sesederhana apa maksudmu?" Bagus bertanya. "Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari kekasihmu, Bagus," Raden mengangguk-angguk seraya berkacak pinggang. Bagus menyeringai, "Itu kan kamu! Bagiku, sesederhana bangun terlambat di pagi hari!" "Astaga Bagus...rendah sekali level bahagiamu ya.." Putri tertawa. "Itukan  menurutku! Memang sesederhana apa bahagiamu, hah?" Bagus menantang Putri. "Aku? Bahagia itu sederhana. Sesederhana seandainnya aku bisa menonton konser Korea di Singapura bulan depan," Putri menerawang. "Hahahahaha...astaga Putri..mahal sekali bahagiamu!" Ayu kembali cekikikan. "Ih..biar saja! Nonton di televisipun aku rela! Asal bisa melihat Siwon beraksi..." Putri menerawang lagi. Ayu tak berhenti cekikikan hingga memukul mukul tepian sofa. "Memang hal sederhana apa yang membuatmu bahagia, Yu?" Raden bertanya. "Aku? Kalau aku...bahagiaku itu, saat bisa makan indomie goreng rasa ayam bawang pakai telur setengah matang buatan Ibuku! Hmm...enakkkk" Ayu yang memang gemuk itu menepuk perutnya. "Ah, dasar Ayu. Makaaaann terus di kepalanya," Gadis ikut menepuk perut Ayu. "Ahh.. Gadisss.. jangan pegang bagian tubuhkuuuu. Awas kamu yaaa," Ayu cemberut, membuat Gadis makin bernafsu meremas lengan Ayu yang empuk itu. Membuat teman-temannya yang lain turut tertawa. "Gadis, memang seperti apa bahagiamu?" Raden bertanya di sela tawanya. "Kalau aku... bahagia itu sesederhana melirik ujung mata Abang setelah berbulan-bulan tidak bertemu..." Gadis menunduk, menarik nafas panjang. Semua menepuk pundak Gadis. "Sudahlah Gadis, kamu akan bertemu laki-laki lain yang lebih baik dari Abang," Raden merangkul Gadis. Gadis mengangguk. "Bahagiaku juga sederhana!" Putra menyahut, "Bahagia menurutku, sesederhana boleh pergi ke Batu Cinta, naik perahu, lalu aku bisa mengukir nama Jelita di tiap batunya!" ujarnya bangga. "Aw..kamu romantis sekali sih Put. Aku juga mau dong diukir namanya," senggol Bagus sambil mengedip jenaka. Suara tawa kembali pecah. Kemudian mereka tersadar. "Dara, kamu kok diam saja sih daritadi. Senyum senyum sendiri begitu. Coba dong kamu bilang, sesederhana apa bahagia buat kamu?" Putri merangkul Dara. "Aku? Bahagia menurutku?" "Iya Dara. Kamu diam saja daritadi. Tinggal kamu nih yang belum komentar. Seperti apa bahagiamu?" Raden mengulang pertanyaan Putri. "Aku? Hmm..." Dara mulai berpikir, lalu ia menutup matanya seakan membayangkan sesuatu sambil berujar,  "Bahagia itu sederhana. Sesederhana bisa berkumpul bersama sahabat-sahabat malam ini, sesederhana boleh mendengar cerita kalian malam ini, sesederhana melihat tawa dan raut bahagia dari wajah kalian saat ini, aku ada di antara manusia-manusia yang menyayangiku, bahagia itu...sederhana," Dara tersenyum, membuka matanya, dan dilihatnya teman-temannya berkaca-kaca. Dara beringsut maju. Ia merentangkan tangannya. Mereka berpelukan. Mereka bahagia.

Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bangun terlambat di pagi hari. 
Sesederhana menyantap indomie goreng rasa ayam bawang dengan telur setengah matang di malam hari. 
 Sesederhana mampu menonton konser Korea, meski hanya bisa dari televisi.
Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari sang kekasih pujaan hati. 
Sesederhana bisa melihat mata orang yang dikasihi, meski hanya sedetik, tetapi melekat di hati. 
Sesederhana naik perahu ke Batu Cinta dan mengukir nama di tiap batu yang ditemui.
 Sederhana. 
Sesederhana ada di antara orang-orang yang dicintai, dipeluk, merasa dilindungi. 
Ya, menjadi bahagia itu, sederhana. 




Jakarta, 30 April 2013 

Jumat, 26 April 2013

Seorang Wanita


Ketika kau membuat seorang wanita menangis, kau mencuri sebagian hatinya.
Ketika kau membuat seorang wanita bersedih dan berduka, kau merampas kebahagiaannya.
Ketika kau menyakiti hati seorang wanita, kau meninggalkan bekas luka mendalam pada jiwanya.
Ketika kau mematahkan hati seorang wanita, kau menghilangkan sebagian hidupnya.
Ketika kau meninggalkan seorang wanita, kau mematikan segala rasa dalam dirinya.
Ketika kau memaki seorang wanita dengan kata-kata kasar, kau membuat dia murung dan trauma.
Ketika kau memaksakan kehendakmu pada seorang wanita, kau menjadikannya pribadi yang pemberontak dan ketakutan.
Ketika kau membuat janji pada seorang wanita, kau memberi harapan baru bagi dirinya.
Ketika kau memuji seorang wanita, kau membuat dia semakin cantik.
Ketika kau membahagiakan seorang wanita, kau terlatih membahagiakan ibumu.
Dan ketika kau belajar mencintai seorang wanita, kau belajar untuk menjadi tabah dan sabar dalam kehidupan...

Abang

-->
Kepada langit malam yang kian meremang : tolong tetap sinari tidur malam orang-orang yang saya kasihi, ya?
            Tertanda, saya.
            Kepada angin yang berhembus pilu seakan lelah menjadi kurir perasaan : saya kangen abang. Saya khawatir sama abang. Sehatkah ia? Dimana ia berada malam ini? Sudah makankah ia malam ini? Lagu apa yang sedang digubahnya malam ini? Sholat tepat waktukah ia hari ini? Begitu banyak pertanyaan, angin. Saya ingin berontak. Terlalu banyak kisah yang ingin saya bagi, tapi sayangnya saya tidak bisa. Saya bisu bila menyangkut perasaan saya ke abang. Saya harap kali ini angin sudi menghembuskan nafas rindu ini, tepat di hati abang. Saya kangen abang.
            Tertanda, saya.
            Kepada bintang yang berpijar di langit kelam : mata saya tidak bisa terpejam. Saya kangeeeenn sekali sama abang. Saya ingin ketemu abang. Sudah terlelapkah ia saat ini? Saya kepingin ukir nama abang di salah satu bintang. Bintang, tolong jaga abang malam ini yaaa...
            Tertanda, saya.
           
            Surat demi surat. Surat yang dia sadari tidak akan terjawab, kepada langit, angin, mentari, awan, bintang dan tak lupa pada bulan, berisi kegundahan, harapan, bahkan rasa syukur tak terucap dan tidak bisa dibagikan. Tetapi, ia tidak menyerah dan semua berujung pada doa bagi satu orang yang sama, abang. Sosok yang baru dikenalnya seujung kuku, tapi mampu menghantuinya selama berhari-hari, berbulan-bulan, ataupun bahkan bisa jadi menjadi bertahun-tahun. Sosok yang membuatnya rela berhenti sejenak untuk rehat di dada bidang abang, beristirahat dari pelarian bertahun-tahun dari kenyataan, membuatnya mau mendarat barang sebentar dari misinya untuk terus terbang bebas tanpa dikendalikan. Semua berubah, karena abang. Abang memberinya cara pandang baru mengenai kebebasan. Titik sudut yang sama sekali berbeda dari definisi bebas yang selama ini ia percaya, ia khidmati. Sosok yang pertama kali menanyakan alasan mengapa ia lari selama ini, dan sosok yang sama yang juga mempertanyakan apakah alasan itu valid, bisa dipahami dan dimengerti, ataukah sebetulnya alasan itu hanyalah kedok untuk menutupi sebuah ketakutan besar akan kemampuan alami manusia, jatuh cinta. Masalahnya, abang benar. Ia takut jatuh cinta, dan sosok itu mengingatkannya pada kenyataan itu, dan mengungkapkan mengapa ia takut jatuh cinta. Ia takut ditinggalkan. Ia takut disakiti. Sesederhana itu. Alasan praktis yang membuatnya trauma bertahun-tahun, membuatnya berhenti berharap akan adanya kasih sayang. Tetapi, baginya abang berbeda. Bersama abang, semua terlihat begitu sederhana, tidak rumit. Jatuh cinta terasa mudah, menyenangkan, karena abang selalu ada disana, siap menangkap tubuhnya, tampak jelas bahwa sosoknya ada, dan terjangkau, dia bisa menjamah dan menyentuhnya. Setelah berpuluh sosok datang dan pergi, ternyata sosok abanglah yang bisa kembali membuatnya percaya dan kembali berharap adanya cinta. Karena ada abang yang mendampingi.
            Enam bulan. Perjalanan cukup singkat tapi bermakna dalam. Selama enam bulan, yang dirasakan hanyalah rasa aman. Aman tidak akan disakiti, ditinggal apalagi. Tetapi ternyata takdir berkata lain. Ia kembali patah hati. Ironisnya, kini hatinya diremukkan oleh sosok yang sama yang dulu menemukan hatinya dan membuatnya percaya. Abang. Ia kembali harus menerima kenyataan adanya perbedaan selalu berpotensi menghancurkan. Alasan perbedaan. Salib dan tasbih. Perbedaan keyakinan yang memang sudah dari awal disadari, bisa menimbulkan perpecahan. Namun, kedua hati berjuang mengabaikan fakta itu dan mencoba menjalani hari seperti biasa. Klise. Tapi begitu adanya. Abang meninggalkannya. Meninggalkan ia dan hatinya yang terlanjur berlabuh dan berjangkar terlalu lama. Ia kembali harus menerima bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar halte, tempat perhentian hati abang yang layaknya sebuah bis kota, hanya berhenti beberapa menit sebelum akhirnya akan kembali mencari halte yang lain. Padahal baginya, abang adalah pegangannya. Kini ia kehilangan arahnya. Kembali ia berpura-pura. Tertawa seakan-akan bahagia, padahal menutupi kenyataan ada lubang besar menganga di hatinya. Karena abang. Ia ingin kembali terbang, tetapi seperti burung yang sayapnya patah, ia terluka. Ia ingin kembali berlari, tetapi kehilangan tujuan. Jadilah ia kini diam mematung. Tidak bergerak. Tidak kembali berjalan. Ia bingung. Kemana lagi ia harus menggantungkan asa dan harapnya? Akhirnya ia memutuskan menulis doa kepada Tuhan melalui perantara angin, langit, mentari, bintang, bulan, yang diyakininya abang juga merasakan adanya keberadaan mereka.
            Ada sedikit kelegaan padanya saat menuliskan surat-suratnya. Pembebasan. Mungkin itu kata yang paling tepat dikatakan. Jiwanya perlahan terbang lagi bersama angin, dan harapannya kembali dituntun oleh bintang. Topengnya luruh meleleh oleh sinar mentari. Ia belajar apa adanya. Jujur pada dirinya. Membiarkan dirinya berkelana sendiri, biarpun arah dan tujuannya tidak pasti. Alih-alih terluka, ia mencoba bersyukur, pasrah dan berdoa. Masih bisa dirasakannya belai abang di wajahnya, cium sayang abang di bibirnya, dan kata-kata penuh cinta masih terdengar merdu di telinganya. Cintanya pada abang, belum pudar dan masih tersisa. Tetapi kini ia merasakan cinta dalam bentuk dimensi berbeda. Ia cinta dunianya. Karena abang.

                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2013