Suatu hari, aku bertanya dalam hati,
Apa yang paling sulit dari tidak lagi memiliki?
Aku sampai diam berkontemplasi, berhari-hari
Lalu aku membuka mata dan menemukan jawab dari pertanyaan ini.
Melepaskan dan merelakannya pergi.
Kemudian aku bertanya lagi
Mengapa melepaskan itu sulit sekali?
Kembali aku bermeditasi, berusaha mencari jawab dalam diri.
Kamu sulit melepaskan karena selama ini kamu beri semua energimu untuk investasi.
Tapi ketika apapun itu tidak lagi bisa kamu genggam dan tidak dapat kembali,
Kamu kecewa, marah, dan mungkin mengutuk diri.
Penasaran, lalu kamu coba lagi.
Membuat lukanya semakin pedih karena digarami.
Kali ini semesta mengajakku diskusi.
Semuanya bilang, sebenarnya kamu tidak punya apa-apa di dunia ini.
Semua hanya dipinjamkan, diberi padamu sebagai titipan.
Ketika kamu kehilangan, ditinggalkan, atau justru kamu yang meninggalkan, berarti memang sudah habis masanya untuk kamu nikmati.
Lalu kenapa kamu merasa kehilangan dan sulit melepaskan?
Aku terkesiap, sejenak murka namun aku sadar.
Ada kelegaan, kepalanku mengendur, amarahku pudar.
Jika tidak ada satu hal pun yang sebetulnya aku miliki seutuhnya, sebenarnya aku tidak pernah kehilangan apapun selama ini.
Maka aku mulai melepaskan, mengamatimu menghilang hingga tinggal bayang...
Translate
Senin, 29 Juni 2020
Minggu, 07 Juni 2020
Akhir Cerita
Tidak semua cerita pasti berakhir bahagia.
Beberapa kisah bisa jadi ditutup kecewa.
Memang ketika kita sudah tahu akan berduka, kita berharap di belakang kalimat ada koma, dan dilanjut lagi dengan kata yang menenangkan jiwa.
Hanya saja, tidak semua ujung bisa kita beri jeda.
Saat sudah menemui titik, itu dia akhirnya, suka tidak suka.
Sama seperti jalan hidup kita.
Kita boleh saja berharap semua akan baik-baik saja.
Realitanya?
Sering kali kita justru lebih banyak menangis daripada tertawa.
Belajar menerima akhir cerita yang tidak kita inginkan pasti sulit dan rasanya hilang asa.
Tapi coba kita keluar bersama dan lihat seluruh plot yang ada.
Tarik napas, sadari bahwa entah mau seperti apa di ujungnya, ada hal yang hanya bisa kita terima, tidak mungkin berubah sekeras apapun kita mencoba.
Mungkin kita cuma bisa belajar menarik makna dari setiap peristiwa, suka tidak suka.
Yakini bahwa seluruh bagian perjalanan yang mungkin banyak dukanya, adalah cara semesta mengajarkanmu semakin dewasa.
Beberapa kisah bisa jadi ditutup kecewa.
Memang ketika kita sudah tahu akan berduka, kita berharap di belakang kalimat ada koma, dan dilanjut lagi dengan kata yang menenangkan jiwa.
Hanya saja, tidak semua ujung bisa kita beri jeda.
Saat sudah menemui titik, itu dia akhirnya, suka tidak suka.
Sama seperti jalan hidup kita.
Kita boleh saja berharap semua akan baik-baik saja.
Realitanya?
Sering kali kita justru lebih banyak menangis daripada tertawa.
Belajar menerima akhir cerita yang tidak kita inginkan pasti sulit dan rasanya hilang asa.
Tapi coba kita keluar bersama dan lihat seluruh plot yang ada.
Tarik napas, sadari bahwa entah mau seperti apa di ujungnya, ada hal yang hanya bisa kita terima, tidak mungkin berubah sekeras apapun kita mencoba.
Mungkin kita cuma bisa belajar menarik makna dari setiap peristiwa, suka tidak suka.
Yakini bahwa seluruh bagian perjalanan yang mungkin banyak dukanya, adalah cara semesta mengajarkanmu semakin dewasa.
Selasa, 02 Juni 2020
...
Kalau kita ketemu lagi,
aku pingin peluk kamu kencang-kencang sampai rasa sesak ini hilang.
Kalau kita ketemu lagi suatu hari,
aku harap bau parfummu masih sama seperti terakhir kita jumpa Natal tahun lalu.
Kubayangkan kamu masih akan pakai jeans biru yang kamu banggakan dipadu dengan sweater biru hitam abu.
Dan aku, tetap dengan jeans warna gelap dan kaus kesayanganku.
Kita akan duduk di restoran kecil tempat biasa kita buat janji temu setiap Sabtu, lalu kamu akan pesan sayur yang akan kamu paksa aku untuk ikut makan itu.
Lalu setelah makan, kita akan duduk bertopang dagu, mengobrol hingga tidak ingat waktu.
Ketika kita sudah merasa terusir karena tiba-tiba tempat itu banyak tamu, kita pindah ke kafe di seberang jalan, pilih tempat terpencil di pojokan, tempat kita bisa bicara tanpa orang lain tahu.
Kemudian setelah kita sadar sudah lewat jam sepuluh, kita akan diam sejenak, aku pesan ojek online, kamu menunggu.
Saat tumpanganku datang, sepertinya kita akan berhadapan, seperti yang lalu-lalu, berdiri canggung dengan tangan yang setengah membuka, satu kaki maju, ingin peluk tapi ragu.
Bisa kubayangkan lagi, setelah beberapa detik saling pandang, kamu akan tersenyum, mengacak rambutku, dan seperti yang dulu-dulu, kamu akan katakan, "hati-hati di jalan, jangan lupa kabari aku."
Langganan:
Komentar (Atom)