Translate
Rabu, 27 Juni 2012
Senin, 25 Juni 2012
Ketika Bintang Menyembuhkan
Ini adalah bagaimana membuktikan teori bahwa kita datang dari alam, dan akan kembali kepada alam, serta bagaimana membuktikan bagaimana luka akan sembuh secara alamiah. Tanggal 21-23 Juni kemarin, saya pergi ke Ciwidey, untuk camping dan rekoleksi. Seperti yang sudah dibayangkan, tempatnya akan bersuhu rendah, dan alamnya indah. Bagaimana tidak indah, lokasinya diapit gunung, tepatnya di lembah gunung Patuha, dan dikelilingi oleh kebun strawberry dan hutan. Sebelumnya, sebelum pergi, saya baru saja patah hati. Saya jadi malaaaasss sekali untuk pergi. Betapa tidak, seperti yang sudah diketahui bahwa ketika patah hati, sesaat indahnya hidup terasa hilang. Tapi saya mencoba menjadi profesional. Saya tetap pergi, dan tetap mengikuti aktivitas semuanya dengan berusaha tersenyum, seakan saya tidak sedang terluka. Tetapi ternyata saya tetap harus menangis. Nah, tepat saat itulah, saya melihat langit di atas sana yang sedang penuhh dengan bintang, dan saya kemudian secara magis tersenyum bahagia. Saya bersedia memaafkan, dan saya siap melepaskan. Lalu saya merasa bahwa kembali punya harapan. Indah sekali. Dan sejak malam itu, saya tidak lagi galau, tapi saya mendoakan. Saya percaya luka ada karena ada obatnya. Dan salah satunya adalah alam. Alam menyembuhkan saya. Saya kembali tersenyum, dan saya percaya Tuhan ada di samping saya untuk mengatakan bahwa semua masalah ada jalannya. :)
Patah
Hati. Cuma Tuhan, dan orang itu yang tau bagaimana perasaannya hari
itu, saat itu, dan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan kadang-kadang,
orang itu sendiri nggak sadar sama perasaannya saat itu. Patah hati. Gw
ga ngerti arti dan maknanya sampai tanggal 20 Juni 2012, gw paham
maksudnya. Yah, mungkin maknanya nggak sama buat semua orang, tapi gw
mengartikan patah hati itu seperti kaki ga kuat nopang badan, lidah
rasanya nggak bisa ngomong, dan semua syaraf mata nggak bisa mengontrol
yang namanya kelenjar air mata buat terus mensekresikan air matanya.
Selain itu, berasanya semua sendi tubuh itu nggak bisa digerakkan, yang
ada cuma nangis, nangis, dan nangis. Gw bener-bener saat itu berasa
jadi pengecut. Nggak bisa bilang apapun yang kepengen gw katakan, nggak
bisa melakukan apapun yang ingin gw lakukan. Saat itu, yang ada di
pikiran gw cuma "Lo putus men. Sudah. It's over. It's your fault"
sedangkan jiwa gw kepengen si 'dia' ada saat itu, dan meluk gw sambil
bilang semua akan baik-baik saja. Tapi masalahnya permintaan jiwa gw
gabisa diturutin. Di saat yang sama, gwjuga merasa seperti burung yang
sayapnya patah. Nggak seimbang, nggak bisa terbang. Gw inget, kenapa
sebelumnya, gw nggak pernah mau pacaran, dan selalu lari kalau lagi di
deketin sama cowok. Gw masih mau terbang. Masih mau hinggap dimanapun
gw suka, berlama-lama dimanapun gw mau, tanpa harus ada yang mengikat
kaki gw di satu tempat. Tapi masalahnya, kadang burung juga suka lalai
tidak mengecek keadaan pohon yang sedang dihinggapinya, bukan? Gw sih
nggak mau menyalahkan siapapun. Waktu pdkt sama pacaran emang luar
biasa so sweetnya. He was the best thing I've ever had deh. Dan gw
rasa, karena perasaan itulah, gw merasa ketika putus, rasanya seperti
diangkat angkat, disanjung, lalu dibanting. Sakit. Seperti burung yang
kalau saat belajar terbang ataupun sedang hinggap namun dikenai sedikit
senggolan ataupun sengaja dijatuhkan, sayap burung bisa patah. Sama
kayak gw. Kembali, gw nggak percaya sama yang namanya cinta. Asli
semalaman nggak bisa tidur, padahal besoknya gw berangkat camping. Luar
biasa. Semalaman cuma mikirin kata-kata terakhir dari si 'doi',
kesalahan-kesalahan gw sama 'doi', sentuhannya, semua kata-kata dan
gombalannya yang bikin gw jatuh cinta, tetapi anehnya, gw ga mikirin
sekalipun kata-kata yang udah nggak berjiwa lagi yang keluar dari
mulutnya waktu mutusin gw. Yah, burung jatuhpun tidak akan
mengingat-ingat siapa yang menjatuhkan atau ranting mana yang
menyenggolnya dari pohon itu. Yang dilakukan burung hanyalah berusaha
bangkit. Namun sayangnya gw nggak setegar burung. Gw nggak langsung
bangkit. Gw sempat tenggelam dalam kesedihan, rasa kecewa akan diri gw
sendiri. Tetapi kemudian sama seperti burung bersayap patah yang
beruntung, ada orang yang mau menemukan dia dan merawat sayapnya sampai
sembuh, gw juga beruntung. Gw dikelilingi orang-orang yang nggak kalah
sayangnya sama gw. Orang-orang yang bersedia tetap duduk setia
mendengarkan keluhan gw, tetap bertahan ketika gw nangis nggak jelas
malam-malam, dan mau benar-benar membukakan mata gw kalau dunia itu
luas dan terlalu indah untuk dihabiskan dengan tangisan. Mereka yang
mendorong gw untuk tidak menangis malam-malam waktu camping, dan tetap
di luar, memandang langit penuh bintang, yang makin menunjukkan betapa
mereka kepingin gw bahagia. Ya, gw ada di tengah teman-teman gw yang
sayangnya setengah mati sama gw. Mereka nggak akan meninggalkan gw,
sekalipun gw pergi jauh, gw tahu gw bakal kembali, dan mereka akan ada
disana. Yeah, I'm lucky. Dear Love, you might killed my soul, but my
friends, they're always make me keep alive. :)
Langganan:
Komentar (Atom)

