Translate

Rabu, 27 Juni 2012

Teori Potong Rambut

Kemaren sore, saya potong rambut. Entah ada hasrat kuat darimana asalnya, saya benar-benar kepingin potong rambut, menghabiskan rambut panjang saya menjadi pendek. New style lah istilah kerennya. Akhirnya, sayapun berada di bangku salon, kemudian saya memandang mata saya lekat-lekat dari kaca di depan saya. Kemudian saya yakin, rambut saya harus pendek. Setelah 4 tahun punya rambut panjang, baru hari itu saya yakin dengan rambut pendek. Kemudian saya tiba-tiba ingat. Bulan Maret yang lalu, tepatnya tanggal 17, waktu ada undangan dinner ulangtahun teman di GI, ketika menunggu jemputan mau pulang, saya dan beberapa teman wanita berbincang tentang sebuah teori yang dibuat sendiri oleh teman saya. Namanya teori POTONG RAMBUT. Kita berempat percaya bahwa ketika kita pacaran, lalu putus, cara paling tepat untuk segera move on adalah potong rambut. Saya juga nggak ngerti dia dapat ide buat teori itu dari mana. Tapi tadi, saya iseng search di omgugel tentang efek potong rambut sesudah patah hati, dan ternyata teori itu ada dasarnya. http://uniqpost.com/39817/patah-hati-make-over-penampilan-saja/ saya nggak sengaja buka link itu, dan saya langsung tahu teman saya benar. Banyak orang patah hati memotong rambutnya, bukan karena tanpa sebab. Menurut saya, mereka terpacu untuk menjadi fokus pada dirinya sendiri, untuk merawat dan mempercantik dirinya. Mereka mau ubah penampilan, terkadang untuk mengubur kenangannya, dan menjadi dirinya yang baru. Saya rasa itu tidak salah dan menyenangkan. Secara magis, entah bagaimana saya merasakan sendiri efeknya. Saat dipotong rambutnya, saya terdorong untuk terus meminta hair stylist untuk memendekkan lagi rambut saya, seekstrim mungkin yang bisa dilakukan. Tapi untungnya tidak jadi. Karena saya rasa itu cuma emosi sesaat saja. hehehe... Saya ingin menjadi berbeda, pribadi berbeda dari yang mantan saya kenal. Saya rasakan sekarang itu wajar. Saat orang patah hati, dia ingin luka hatinya disembuhkan, dan berbagai cara akan dilakukan untuk membuat dirinya menjadi lebih nyaman dan percaya diri, dan potong rambut adalah salah satu simbolis ada beban terangkat dari orang itu. Dan saya percaya. Tapi sekali lagi saya mau terimakasih buat Johana, Nana, yang mengenalkan saya sama teori itu, yang akhirnya membuat saya bahagiaa :) This is the new me babyyyy :D

Senin, 25 Juni 2012

Ketika Bintang Menyembuhkan

Ini adalah bagaimana membuktikan teori bahwa kita datang dari alam, dan akan kembali kepada alam, serta bagaimana membuktikan bagaimana luka akan sembuh secara alamiah. Tanggal 21-23 Juni kemarin, saya pergi ke Ciwidey, untuk camping dan rekoleksi. Seperti yang sudah dibayangkan, tempatnya akan bersuhu rendah, dan alamnya indah. Bagaimana tidak indah, lokasinya diapit gunung, tepatnya di lembah gunung Patuha, dan dikelilingi oleh kebun strawberry dan hutan. Sebelumnya, sebelum pergi, saya baru saja patah hati. Saya jadi malaaaasss sekali untuk pergi. Betapa tidak, seperti yang sudah diketahui bahwa ketika patah hati, sesaat indahnya hidup terasa hilang. Tapi saya mencoba menjadi profesional. Saya tetap pergi, dan tetap mengikuti aktivitas semuanya dengan berusaha tersenyum, seakan saya tidak sedang terluka. Tetapi ternyata saya tetap harus menangis. Nah, tepat saat itulah, saya melihat langit di atas sana yang sedang penuhh dengan bintang, dan saya kemudian secara magis tersenyum bahagia. Saya bersedia memaafkan, dan saya siap melepaskan. Lalu saya merasa bahwa kembali punya harapan. Indah sekali. Dan sejak malam itu, saya tidak lagi galau, tapi saya mendoakan. Saya percaya luka ada karena ada obatnya. Dan salah satunya adalah alam. Alam menyembuhkan saya. Saya kembali tersenyum, dan saya percaya Tuhan ada di samping saya untuk mengatakan bahwa semua masalah ada jalannya. :)

Patah

Hati. Cuma Tuhan, dan orang itu yang tau bagaimana perasaannya hari itu, saat itu, dan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan kadang-kadang, orang itu sendiri nggak sadar sama perasaannya saat itu. Patah hati. Gw ga ngerti arti dan maknanya sampai tanggal 20 Juni 2012, gw paham maksudnya. Yah, mungkin maknanya nggak sama buat semua orang, tapi gw mengartikan patah hati itu seperti kaki ga kuat nopang badan, lidah rasanya nggak bisa ngomong, dan semua syaraf mata nggak bisa mengontrol yang namanya kelenjar air mata buat terus mensekresikan air matanya. Selain itu, berasanya semua sendi tubuh itu nggak bisa digerakkan, yang ada cuma nangis, nangis, dan nangis. Gw bener-bener saat itu berasa jadi pengecut. Nggak bisa bilang apapun yang kepengen gw katakan, nggak bisa melakukan apapun yang ingin gw lakukan. Saat itu, yang ada di pikiran gw cuma "Lo putus men. Sudah. It's over. It's your fault" sedangkan jiwa gw kepengen si 'dia' ada saat itu, dan meluk gw sambil bilang semua akan baik-baik saja. Tapi masalahnya permintaan jiwa gw gabisa diturutin. Di saat yang sama, gwjuga merasa seperti burung yang sayapnya patah. Nggak seimbang, nggak bisa terbang. Gw inget, kenapa sebelumnya, gw nggak pernah mau pacaran, dan selalu lari kalau lagi di deketin sama cowok. Gw masih mau terbang. Masih mau hinggap dimanapun gw suka, berlama-lama dimanapun gw mau, tanpa harus ada yang mengikat kaki gw di satu tempat. Tapi masalahnya, kadang burung juga suka lalai tidak mengecek keadaan pohon yang sedang dihinggapinya, bukan? Gw sih nggak mau menyalahkan siapapun. Waktu pdkt sama pacaran emang luar biasa so sweetnya. He was the best thing I've ever had deh. Dan gw rasa, karena perasaan itulah, gw merasa ketika putus, rasanya seperti diangkat angkat, disanjung, lalu dibanting. Sakit. Seperti burung yang kalau saat belajar terbang ataupun sedang hinggap namun dikenai sedikit senggolan ataupun sengaja dijatuhkan, sayap burung bisa patah. Sama kayak gw. Kembali, gw nggak percaya sama yang namanya cinta. Asli semalaman nggak bisa tidur, padahal besoknya gw berangkat camping. Luar biasa. Semalaman cuma mikirin kata-kata terakhir dari si 'doi', kesalahan-kesalahan gw sama 'doi', sentuhannya, semua kata-kata dan gombalannya yang bikin gw jatuh cinta, tetapi anehnya, gw ga mikirin sekalipun kata-kata yang udah nggak berjiwa lagi yang keluar dari mulutnya waktu mutusin gw. Yah, burung jatuhpun tidak akan mengingat-ingat siapa yang menjatuhkan atau ranting mana yang menyenggolnya dari pohon itu.  Yang dilakukan burung hanyalah berusaha bangkit. Namun sayangnya gw nggak setegar burung. Gw nggak langsung bangkit. Gw sempat tenggelam dalam kesedihan, rasa kecewa akan diri gw sendiri. Tetapi kemudian sama seperti burung bersayap patah yang beruntung, ada orang yang mau menemukan dia dan merawat sayapnya sampai sembuh, gw juga beruntung. Gw dikelilingi orang-orang yang nggak kalah sayangnya sama gw. Orang-orang yang bersedia tetap duduk setia mendengarkan keluhan gw, tetap bertahan ketika gw nangis nggak jelas malam-malam, dan mau benar-benar membukakan mata gw kalau dunia itu luas dan terlalu indah untuk dihabiskan dengan tangisan. Mereka yang mendorong gw untuk tidak menangis malam-malam waktu camping, dan tetap di luar, memandang langit penuh bintang, yang makin menunjukkan betapa mereka kepingin gw bahagia.  Ya, gw ada di tengah teman-teman gw yang sayangnya setengah mati sama gw. Mereka nggak akan meninggalkan gw, sekalipun gw pergi jauh, gw tahu gw bakal kembali, dan mereka akan ada disana. Yeah, I'm lucky. Dear Love, you might killed my soul, but my friends, they're always make me keep alive. :)


Selasa, 19 Juni 2012

Ini postingan pertama saya. Lega rasanya bisa berani punya blog dan belajar menjadi pencerita. :)