Kemarin, aku menemukan buku lama kita, bukti bahwa kita pernah punya cerita berdua.
Setelah sekian lama aku tidak berani buka, pelan-pelan kubalik lembar demi lembar, isinya kisah kita.
Sempat aku resapi setiap kalimat yang kita tulis bersama, bisa kutahu ada rasa di setiap katanya.
Ingatanku berkelana pada beberapa tahun lalu, saat kita masih sangat belia.
Terlalu banyak peristiwa yang hanya untuk kita saja.
Masih teringat masa kita saling suka, menahan diri agar tidak jatuh cinta, menghilang tidak bertegur sapa, saling membalas luka, dan akhirnya sama-sama menerima bahwa nyatanya kita tidak ditakdirkan bersama sebagai pecinta.
Di tengah membaca puisi-puisi karya kita, aku kembali pada peristiwa kita zaman SMA, kita suka pergi ke taman berdua, melihat bintang di malam hari, duduk di tepi air mancur, mendengarkan musik yang berkumandang di sela tawa dan cerita kita. Di taman itu, kita saling berbagi mimpi, kita saling mengagumi. Kamu adalah orang yang membuatku sadar bahwa aku bisa dicintai sebagai apa adanya aku.
Aku juga ingat beberapa kali kamu muncul di depan sekolahku, menjemputku pulang di hari Sabtu. "Aku mau les biola sama kakakmu." begitu alibimu, meski itu hanya alasan, aku tahu.
Aku ingat kita pergi ke taman naik motor berdua, itu saja sudah romantis rasanya. Di tengah perjalanan kita bisa saling bicara, dan aku ingat kamu bilang padaku, "Mungkin kita memang tidak bisa bersama, aku mau bisa terus cerita sama kamu, mengeluh sama kamu, jadi, masa aku cerita sama kamu tentang kamu?" Dan aku setuju. Detik itu kita sama-sama tahu, semesta merajut kisah asmara yang berbeda bagi kita berdua.
Memoriku juga tiba pada saat kamu tiba-tiba meneleponku tengah malam, minta ditemani. "Maaf aku telepon tengah malam." Begitu katamu, kamu tidak baik-baik saja karena kudengar resah dalam suaramu dan aku tahu kamu cuma perlu yakin bahwa aku ada. Demikian, kita berjam-jam terdiam, hingga sama-sama terlelap.
Kemarin juga, namamu tiba-tiba muncul di layar telepon genggamku.
Kamu cerita panjang, aku hanya mendengarkan; intinya, kamu mengundang.
Kamu akhirnya menemukan pelabuhan hati terakhirmu, dan kamu siap menurunkan jangkar untuk kapalmu merapat.
Mendengar undangan hari bahagiamu, aku terdiam.
Aku ingat setahun lalu kamu ajak aku ke kafe berdua, setelah bertahun-tahun tidak pernah pergi bersama. Kamu cerita tentang dia, orang yang akhirnya membuatmu yakin manusia diciptakan berpasangan. Kamu ungkapkan kegelisahan hatimu tentang hidup berkeluarga. Aku ingat aku hanya diam mendengarkan, sesekali menepuk pundakmu atau memegang tanganmu untuk menenangkan. Aku ingat kamu tanya, "kamu nggak apa-apa kalau aku menikah duluan?" Aku ingat aku menggeleng, tersenyum, dan menatap matanya, "Seperti yang dulu-dulu, aku bahagia kalau kamu bahagia." Tapi setelah kurenungkan lagi, kata-kataku seperti dusta.
Saat kamu kemarin mengundangku, tubuhku membeku, lidahku kelu. Harusnya aku sudah bisa tahu, akan datang hari itu. Mendengarmu bicara melalui telepon itu, aku tahu ini terakhir kalinya namamu muncul di layarku. Aku tidak bisa lagi bebas menghubungimu, tiba-tiba mencurahkan isi hatiku, marah-marah, atau sekedar bilang, "aku kangen kamu."
Seketika aku sedih, aku merasa kehilangan kamu. Protes, "Terus bagaimana dengan aku?"
Tapi kemudian aku sadar sesuatu,
Mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersatu, kita itu seperti urutan kancing baju, kita saling menunggu, tapi tidak pernah bertemu.
Pada akhirnya, satu hal yang kutahu, selalu ada sayang buatmu, dan selalu ada rasa sayang untukku. Dan karena itu, aku melakukan aksi cinta yang paling tinggi buatmu, mendoakanmu selalu bahagia, seperti yang dulu dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar