Kepada langit malam, kuserukan bahwa aku kesakitan. Sakit karena merindukan hadirmu di tiap malamku. Merindukan hadirmu yang kuyakini kini hanya akan menjadi khayalan dan mimpi di siang hari. Merindukan suara tawamu yang renyah mengantarkan aku terlelap di malam hari.
Kepada mentari pagi, kubisikkan bahwa aku kelelahan. Lelah karena terlalu sering memimpikanmu di dalam lelapku. Memimpikanmu yang aku tahu hanya sanggup kugapai melalui seutas doa kepada Tuhan agar rasaku mendampingi hari-harimu. Lelah karena tiap aku terjaga di pagi hari, airmata kerap menetes dari sudut mataku tanpa aku sadari, karena aku memimpikanmu.
Kepada angin yang berhembus manja, kusampaikan bahwa aku ingin berbagi bersamamu. Berbagi semua cerita dan semua emosiku. Membagikan rasa, asa, dan semua mimpiku. Membagikan ketakutan dan kecemasan yang menyesakkan dadaku, hingga aku akhirnya lega dan kembali merasakan adanya nafas teratur di dalam paru-paruku. Seperti yang kita lakukan, dulu.
Kepada rumput yang menari indah diterpa angin sepoi, aku mengatakan bahwa aku kehilangan dirimu. Aku kehilangan semangat yang dulu kau bagikan untukku. Kehilangan kehangatan yang dulu kau bagi tiap kali aku kembali beku karena cinta yang hampir selalu mematahkan hatiku.
Aih... ya.. kepada alam semesta, aku meneriakkan dalam bisu, bahwa aku kehilangan dirimu, sahabatku. Ragamu dekat bersamaku, akan tetapi pikiranmu tidak bersamaku. Sering kupikirkan janji manismu yang mengatakan bahwa kau akan menjagaku, mengingatkanku jika aku berjalan di luar arah yang sudah digariskan. Janjimu yang mengatakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku, akan selalu siap jika aku membutuhkanmu. Namun, kini kau menghilang, dan aku tidak tahu kabarmu. Alam semesta, aku merindukan sahabatku..
Translate
Senin, 09 Desember 2013
Senin, 08 Juli 2013
8 JULI 2013
Ini adalah hari yang membuat semua perjuangan terasa layak dijalani. Pengumuman SBMPTN (Saringan Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah hari ini. Seharian, dilalui dengan penuh rasa gelisah, dan penuh doa. Banyak yang bilang, saya ini berlebihan. Akan tetapi, saya benar-benar merasa luar biasa ketakutan akan adanya penolakan kali ini. Menurut orang-orang sekitar, tidak masuk UI bukanlah akhir dari dunia. Dunia saya tidak runtuh dan tidak akan terjadi kiamat. Iya, saya sadar itu benar. Tapi, masuk UI adalah mimpi saya. Mimpi gila yang saya tidak sangka bisa jadi kenyataan. It's too great to be true. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Siapa yang tidak mau masuk UI? Sudah sering saya bayangkan memakai jas almamater kuning yang menjadi ciri khas UI. Betapa bangganya. Akhirnya, setelah pengumuman menegangkan sore tadi, tidak lama lagi, mimpi itu jadi nyata. Betapa Tuhan mendengarkan doa saya.
Detik-detik pengumuman menjadi amat luar biasa menegangkan. Karena ribuan orang mau melihat pengumuman, maka server down untuk beberapa lama. Dari jadwal pukul 17.00, saya sendiri baru bisa membuka websitenya pukul 18.00. Itupun setelah saya titip minta tolong kakak saya di Jakarta untuk melihat pengumuman. Selama penantian itu, saya sambil online twitter. Saya stress melihat twit teman-teman yang sudah bisa melihat pengumuman, sedangkan saya belum. Saya juga senewen melihat whatsapp dari teman-teman yang menanyakan bagaimana hasil pengumuman. Ingin rasanya saya marah-marah. Lalu, begitu websitenya bisa dibuka...kakak saya yang ditelepon dari Semarang dengan berseru menyatakan saya lolos SBMPTN! Betapa girang hati saya. Saya langsung meletakkan handphone, lalu melompat dan memeluk budhe yang duduk di sebelah saya, dan saya menangis. Menangis kaget, terharu, bahagia. Semua jadi satu. Saya tidak percaya, sampai akhirnya kakak saya mengcapture hasil pengumuman, dan dikirimkan ke inbox facebook saya. Seketika saya tanyakan teman-teman saya yang belum saling berkabar. Mereka ada yang tidak lolos. Kontan saya sedih, dan bersyukur. Sedih karena mereka tidak lolos, dan bersyukur karena Tuhan telah memilih saya, membantu saya untuk masuk ke universitas yang menurut orang-orang sangat sulit untuk masuk.
Saya rasa, hasil penerimaan kali ini merupakan pembuktian diri saya, dan anugerah luar biasa dari Tuhan kepada saya. Saya percaya ini adalah yang terbaik, dan Tuhan punya rencana besar bagi saya dan keluarga saya di depan sana. Perjuangan saya masih sangatlah panjang. Hanya saja, gerbang menuju mimpi telah terbuka hari ini. Kini, doa saya ialah agar Tuhan menjaga saya untuk tidak terlalu lama tenggelam dalam euforia hari ini. Masih banyak teman saya yang harus berjuang meraih mimpinya, dan masih banyak teman yang kecewa akan hasil hari ini. Saya juga mengatakan pada keluarga saya, agar senantiasa mengingatkan agar saya tidak menyombongkan diri. Masih panjang jalan di depan sana. Saya selalu ingat kata-kata Ibu saya ketika saya kelas 4 SD. "Kalau kamu sombong, ingat-ingat ini sampai kamu besar. Kamu membuka lubang kuburan di hadapanmu sendiri." Dan saya percaya itu. Semoga setelah hari ini, langkah saya semakin ringan untuk meniti pelangi yang sedang Tuhan rajut untuk saya. Semoga setelah hari ini, saya semakin sadar rencana apa yang sedang Tuhan rancang bagi saya, dan saya belajar untuk membahagiakan tidak hanya diri saya sendiri, tapi juga membahagiakan orang-orang di sekitar saya.
Well, good night fellas. Have a nice sleep :)
-Semarang, 8 Juli 2013-
Detik-detik pengumuman menjadi amat luar biasa menegangkan. Karena ribuan orang mau melihat pengumuman, maka server down untuk beberapa lama. Dari jadwal pukul 17.00, saya sendiri baru bisa membuka websitenya pukul 18.00. Itupun setelah saya titip minta tolong kakak saya di Jakarta untuk melihat pengumuman. Selama penantian itu, saya sambil online twitter. Saya stress melihat twit teman-teman yang sudah bisa melihat pengumuman, sedangkan saya belum. Saya juga senewen melihat whatsapp dari teman-teman yang menanyakan bagaimana hasil pengumuman. Ingin rasanya saya marah-marah. Lalu, begitu websitenya bisa dibuka...kakak saya yang ditelepon dari Semarang dengan berseru menyatakan saya lolos SBMPTN! Betapa girang hati saya. Saya langsung meletakkan handphone, lalu melompat dan memeluk budhe yang duduk di sebelah saya, dan saya menangis. Menangis kaget, terharu, bahagia. Semua jadi satu. Saya tidak percaya, sampai akhirnya kakak saya mengcapture hasil pengumuman, dan dikirimkan ke inbox facebook saya. Seketika saya tanyakan teman-teman saya yang belum saling berkabar. Mereka ada yang tidak lolos. Kontan saya sedih, dan bersyukur. Sedih karena mereka tidak lolos, dan bersyukur karena Tuhan telah memilih saya, membantu saya untuk masuk ke universitas yang menurut orang-orang sangat sulit untuk masuk.
Saya rasa, hasil penerimaan kali ini merupakan pembuktian diri saya, dan anugerah luar biasa dari Tuhan kepada saya. Saya percaya ini adalah yang terbaik, dan Tuhan punya rencana besar bagi saya dan keluarga saya di depan sana. Perjuangan saya masih sangatlah panjang. Hanya saja, gerbang menuju mimpi telah terbuka hari ini. Kini, doa saya ialah agar Tuhan menjaga saya untuk tidak terlalu lama tenggelam dalam euforia hari ini. Masih banyak teman saya yang harus berjuang meraih mimpinya, dan masih banyak teman yang kecewa akan hasil hari ini. Saya juga mengatakan pada keluarga saya, agar senantiasa mengingatkan agar saya tidak menyombongkan diri. Masih panjang jalan di depan sana. Saya selalu ingat kata-kata Ibu saya ketika saya kelas 4 SD. "Kalau kamu sombong, ingat-ingat ini sampai kamu besar. Kamu membuka lubang kuburan di hadapanmu sendiri." Dan saya percaya itu. Semoga setelah hari ini, langkah saya semakin ringan untuk meniti pelangi yang sedang Tuhan rajut untuk saya. Semoga setelah hari ini, saya semakin sadar rencana apa yang sedang Tuhan rancang bagi saya, dan saya belajar untuk membahagiakan tidak hanya diri saya sendiri, tapi juga membahagiakan orang-orang di sekitar saya.
Well, good night fellas. Have a nice sleep :)
-Semarang, 8 Juli 2013-
Jumat, 05 Juli 2013
Pangeran Berkuda Putih
Sekitar sebulan lalu, waktu pulang gereja hari Sabtu, Ibu tiba-tiba nunjuk seorang cowok berkemeja kotak-kotak hitam putih yang duduk di atas motor di halaman gereja. Ibu bilang, "Tuh Vin, ganteng. Ibu kasih kamu tantangan. Berani gak kamu kenalan sama cowok itu?" Tantangan itu bikin gw jadi merhatiin cowok itu, yang sampai sekarang gw sebut dengan 'si kakak ganteng'. Demi apa aja, dia tampan. Wow, namanya ditantang kan, adrenalin langsung meningkat tuh. Entah kenapa, wajahnya jadi keinget terus. Akhirnya, udah dua minggu lewat, tantangan itu sudah terlupakan, bahkan wajah si kakak ganteng juga sudah nggak jadi fokus. Lalu, waktu lagi ada event anak muda Katolik di gereja jalan Malang, gw ketemu si kakak ganteng itu lagi. Tantangannya Ibu jadi keinget deh. Kenalan sama si kakak ganteng. Gw itu orangnya gampang kenalan. Gampang memulai percakapan, bisa dengan mudahnya menyapa, yang bahkan kata temen-temen gw, gw itu nggak punya malu. Tapi entah kenapa, di deket si kakak ganteng, gw speechless. Nggak bisa ngomong apa-apa. He's different. Dia punya sesuatu yang bikin gw nggak berani mendekat. Padahal, gw berdiri persis di sebelah dia. Padahal, kalo gw mau nih, kayaknya modus sedikit bisa bikin gw salaman sama si kakak ganteng. Tapi nggak tahu kenapa, gw cuma diam. Nggak bergerak. Selama dua hari kegiatan, gw lihat si kakak ganteng terus, dan gw menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tapi emang dasarnya gw nggak tahu malu, setelah misa kaum muda yang dilaksanakan sebagai puncak event, gw berseliweran di dekat si kakak ganteng, dan sepertinya (ini gw aja kali yah yang geer) dia notice keberadaan gw! Yeayyyy.. buktinya, setiap kali gw nengok ke dia, dia juga melihat ke arah gw (oke ini jelas gwnya aja yang geer hehehe) Tapi mungkin sebenernya dia itu agak ilfil kali yah hahahaa.. oke bodo amat. Tapi sekali lagi, gw nggak berani mendekat. Namun sesudahnya, miracle happened. Ada anak sesama paroki si kakak ganteng teriak manggil si kakak ganteng dan gw akhirnya tahu namanya!!! Aaaakkkk...can you imagine how happy I was? ahahahaha...but in the end,the result still, gw nggak berhasil kenalan! Grr.. ada rasa penasaran sih. What's wrong with me? Akhirnya, event anak muda itu berlalu tanpa gw berhasil melakukan tantangan.
Seminggu kemudian, yang berarti itu adalah minggu lalu, ada misa tahbisan romo di Cibubur. Setelah misa, ada acara lagi di lapangan sekolahan deket gereja. Waktu gw dari parkiran mobil mau ke lapangan sekolah, gw menengok ke barisan orang yang mau masuk gerbang sekolah, dan mata gw langsung menangkap sosok manusia yang nggak asing. Si kakak ganteng! Demi apa! Dari sekian banyak manusia yang berjalan, mata gw menangkap sosok si kakak ganteng, dan persis waktu gw melihat sosoknya, dia juga melihat ke arah gw. Entah itu yang dilihat gw atau bukan, tapi gw bisa dengan bebas melihat wajahnya. Oh my.. you've just made my day dude :') dan setelah itu, selama acara makan, entah bagaimana caranya, gw bisa dengan mudah mencari sosok si kakak ganteng dalam kerumunan. Seakan ada radar, dan gw bisa melacak adanya si kakak ganteng. Serem yak? ahahaha ya terserah deh ah. Dengan bangganya, gw pamer ke Ibu kalau gw bisa melacak si kakak ganteng di sana. Ketemu si kakak ganteng bener-bener bikin seharian gw tersenyum. Aneh ya? Entah. Gw juga nggak ngerti bagaimana bisa sosok yang gw nggak kenal sama sekali, bisa bikin gw tersenyum sendiri. Seminggu berlalu, tapi tetep wajahnya nggak bisa hilang. Nggak tahu kenapa, gw jadi semangat pergi ke gereja tiap sore, apalagi kalau misa di gerejanya si kakak ganteng. Apalagi di misa-misa khusus seperti Jumat Pertama kemarin itu. Tapi sayang, kaum muda gereja itu lagi ada summer camp, yang alhasil, gw nggak menemukan adanya anak muda kemarin, yang berarti, tidak ada si kakak ganteng. Ngeliat gw kecewa, Ibu bilang lagi sama gw gini, "Think smart dong. Cari di fb." Wow. Brilian. Bahkan otak gw nggak sampai situ. Akhirnya, malam ini gw dengan semangat 45, menelusuri fb untuk mencari nama lengkap si kakak ganteng. Setelah dua jam pencarian, voila! Finally I found his facebook. Bahagia banget. I already knew his fullname. Thank God.
Okay. Dari postingan di atas, gw jadi berpikir. Bagaimana bisa sosok yang gw nggak kenal, bisa bikin gw tersenyum. Mungkinkah ini efek adrenalin, yang disebabkan oleh tantangan? Entah, gw nggak tahu. Sejujurnya, gw lebih suka begini. Membiarkan diri gw nggak kenal sama si kakak ganteng. Membiarkan sosoknya jadi hantu di pikiran gw. Membiarkan diri gw terpesona sama bayang-bayangnya dan menikmati senyumnya dari jauh. Membiarkan sosoknya jadi motivasi, dan dia tidak perlu tahu. Mengagumi si kakak ganteng, tanpa perlu menyelami hidupnya, itu sudah membuat gw bahagia. Lebih baik begini. Membiarkan gw berfantasi dengan liarnya tentang sosok si kakak ganteng, berimajinasi sendiri, tanpa tahu kebenaran tentang hidup si kakak ganteng yang takutnya, nanti malah bikin gw kecewa sendiri. At least, I still know his name already :) It's more than enough. Ada satu pesan ulangtahun dari Ibu yang bikin gw teringat lagi. "Semoga kamu menemukan pangeran berkuda putihmu ya Vin." Dan secara kebetulan, ada postingan status di fb nya si kakak ganteng yang menyebut-nyebut pangeran berkuda putih. Gw senyum-senyum sendiri. Mungkinkah ini pertanda? (maaf, mulai nggak jelas ahahaha) Enggak ding. But, if he's my prince with the white horse, I will never know. Intinya sih, tantangan Ibu nggak jadi terlaksana, atau mungkin bisa dikatakan belum terlaksana. Tapi kayaknya, gw lebih suka begini deh. Membiarkan otak gw berimajinasi, tanpa ada kontaminasi :)
Well, akhirnya, gw cuma mau bilang, selamat malam! :D
Seminggu kemudian, yang berarti itu adalah minggu lalu, ada misa tahbisan romo di Cibubur. Setelah misa, ada acara lagi di lapangan sekolahan deket gereja. Waktu gw dari parkiran mobil mau ke lapangan sekolah, gw menengok ke barisan orang yang mau masuk gerbang sekolah, dan mata gw langsung menangkap sosok manusia yang nggak asing. Si kakak ganteng! Demi apa! Dari sekian banyak manusia yang berjalan, mata gw menangkap sosok si kakak ganteng, dan persis waktu gw melihat sosoknya, dia juga melihat ke arah gw. Entah itu yang dilihat gw atau bukan, tapi gw bisa dengan bebas melihat wajahnya. Oh my.. you've just made my day dude :') dan setelah itu, selama acara makan, entah bagaimana caranya, gw bisa dengan mudah mencari sosok si kakak ganteng dalam kerumunan. Seakan ada radar, dan gw bisa melacak adanya si kakak ganteng. Serem yak? ahahaha ya terserah deh ah. Dengan bangganya, gw pamer ke Ibu kalau gw bisa melacak si kakak ganteng di sana. Ketemu si kakak ganteng bener-bener bikin seharian gw tersenyum. Aneh ya? Entah. Gw juga nggak ngerti bagaimana bisa sosok yang gw nggak kenal sama sekali, bisa bikin gw tersenyum sendiri. Seminggu berlalu, tapi tetep wajahnya nggak bisa hilang. Nggak tahu kenapa, gw jadi semangat pergi ke gereja tiap sore, apalagi kalau misa di gerejanya si kakak ganteng. Apalagi di misa-misa khusus seperti Jumat Pertama kemarin itu. Tapi sayang, kaum muda gereja itu lagi ada summer camp, yang alhasil, gw nggak menemukan adanya anak muda kemarin, yang berarti, tidak ada si kakak ganteng. Ngeliat gw kecewa, Ibu bilang lagi sama gw gini, "Think smart dong. Cari di fb." Wow. Brilian. Bahkan otak gw nggak sampai situ. Akhirnya, malam ini gw dengan semangat 45, menelusuri fb untuk mencari nama lengkap si kakak ganteng. Setelah dua jam pencarian, voila! Finally I found his facebook. Bahagia banget. I already knew his fullname. Thank God.
Okay. Dari postingan di atas, gw jadi berpikir. Bagaimana bisa sosok yang gw nggak kenal, bisa bikin gw tersenyum. Mungkinkah ini efek adrenalin, yang disebabkan oleh tantangan? Entah, gw nggak tahu. Sejujurnya, gw lebih suka begini. Membiarkan diri gw nggak kenal sama si kakak ganteng. Membiarkan sosoknya jadi hantu di pikiran gw. Membiarkan diri gw terpesona sama bayang-bayangnya dan menikmati senyumnya dari jauh. Membiarkan sosoknya jadi motivasi, dan dia tidak perlu tahu. Mengagumi si kakak ganteng, tanpa perlu menyelami hidupnya, itu sudah membuat gw bahagia. Lebih baik begini. Membiarkan gw berfantasi dengan liarnya tentang sosok si kakak ganteng, berimajinasi sendiri, tanpa tahu kebenaran tentang hidup si kakak ganteng yang takutnya, nanti malah bikin gw kecewa sendiri. At least, I still know his name already :) It's more than enough. Ada satu pesan ulangtahun dari Ibu yang bikin gw teringat lagi. "Semoga kamu menemukan pangeran berkuda putihmu ya Vin." Dan secara kebetulan, ada postingan status di fb nya si kakak ganteng yang menyebut-nyebut pangeran berkuda putih. Gw senyum-senyum sendiri. Mungkinkah ini pertanda? (maaf, mulai nggak jelas ahahaha) Enggak ding. But, if he's my prince with the white horse, I will never know. Intinya sih, tantangan Ibu nggak jadi terlaksana, atau mungkin bisa dikatakan belum terlaksana. Tapi kayaknya, gw lebih suka begini deh. Membiarkan otak gw berimajinasi, tanpa ada kontaminasi :)
Well, akhirnya, gw cuma mau bilang, selamat malam! :D
Kamis, 30 Mei 2013
Kamu
Kamu itu...
Seperti debu pasir yang makin aku genggam erat,
Kamu makin menghilang
Kamu itu...
Seperti angin yang meski aku tak mengharapkan hadirmu,
Kamu ada
Kamu itu...
Seperti pelangi yang tiba-tiba hadir menjadi harapan seusai badai,
Kemudian cepat pergi dan aku tak tahu kapan kau kembali
Kamu itu...
Seperti bintang di langit...
Semakin aku berusaha menggapaimu,
Kamu kian menghilang dan menyorot yang lain
Kamu itu...
Seperti deburan ombak di pantai yang memecah hening,
Lalu segera pergi tak berjejak meninggalkan rasa sepi di hati...
Kamu itu...
Seperti mentari pagi..
Yang sebentar menghangatkan hati, lama membakar mimpi
Kamu...
Kamu...
Makin membuatku bertanya-tanya
Nyatakah hadirmu saat ini?
-30 Mei 2013-
Seperti debu pasir yang makin aku genggam erat,
Kamu makin menghilang
Kamu itu...
Seperti angin yang meski aku tak mengharapkan hadirmu,
Kamu ada
Kamu itu...
Seperti pelangi yang tiba-tiba hadir menjadi harapan seusai badai,
Kemudian cepat pergi dan aku tak tahu kapan kau kembali
Kamu itu...
Seperti bintang di langit...
Semakin aku berusaha menggapaimu,
Kamu kian menghilang dan menyorot yang lain
Kamu itu...
Seperti deburan ombak di pantai yang memecah hening,
Lalu segera pergi tak berjejak meninggalkan rasa sepi di hati...
Kamu itu...
Seperti mentari pagi..
Yang sebentar menghangatkan hati, lama membakar mimpi
Kamu...
Kamu...
Makin membuatku bertanya-tanya
Nyatakah hadirmu saat ini?
-30 Mei 2013-
Selasa, 30 April 2013
Bahagia itu Sederhana
Bahagia itu sederhana.
Mereka adalah manusia biasa. Sekelompok remaja yang baru saja selesai ujian negara. Sekelompok remaja yang baru menuntaskan kewajiban belajar 12 tahun, dan kini berkumpul bersama berbagi cerita. Sekelompok remaja yang tumbuh bersama. Sekelompok remaja biasa yang entah bagaimana caranya, menemukan sendiri apa itu bahagia. Dari sisi perspektif masing-masing pribadi. Ya, mereka menemukan bahwa menjadi bahagia sangatlah sederhana.
"Bahagia itu sederhana," kata Gadis. "Sederhana?" Ayu cekikikan. "Iya, sederhana. Banyak hal sepele di dunia ini yang bisa dengan mudah membuat kita bahagia, " tukas Gadis mengeraskan wajahnya, memberi tanda ada keseriusan pada nada suaranya. "Sesederhana apa maksudmu?" Bagus bertanya. "Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari kekasihmu, Bagus," Raden mengangguk-angguk seraya berkacak pinggang. Bagus menyeringai, "Itu kan kamu! Bagiku, sesederhana bangun terlambat di pagi hari!" "Astaga Bagus...rendah sekali level bahagiamu ya.." Putri tertawa. "Itukan menurutku! Memang sesederhana apa bahagiamu, hah?" Bagus menantang Putri. "Aku? Bahagia itu sederhana. Sesederhana seandainnya aku bisa menonton konser Korea di Singapura bulan depan," Putri menerawang. "Hahahahaha...astaga Putri..mahal sekali bahagiamu!" Ayu kembali cekikikan. "Ih..biar saja! Nonton di televisipun aku rela! Asal bisa melihat Siwon beraksi..." Putri menerawang lagi. Ayu tak berhenti cekikikan hingga memukul mukul tepian sofa. "Memang hal sederhana apa yang membuatmu bahagia, Yu?" Raden bertanya. "Aku? Kalau aku...bahagiaku itu, saat bisa makan indomie goreng rasa ayam bawang pakai telur setengah matang buatan Ibuku! Hmm...enakkkk" Ayu yang memang gemuk itu menepuk perutnya. "Ah, dasar Ayu. Makaaaann terus di kepalanya," Gadis ikut menepuk perut Ayu. "Ahh.. Gadisss.. jangan pegang bagian tubuhkuuuu. Awas kamu yaaa," Ayu cemberut, membuat Gadis makin bernafsu meremas lengan Ayu yang empuk itu. Membuat teman-temannya yang lain turut tertawa. "Gadis, memang seperti apa bahagiamu?" Raden bertanya di sela tawanya. "Kalau aku... bahagia itu sesederhana melirik ujung mata Abang setelah berbulan-bulan tidak bertemu..." Gadis menunduk, menarik nafas panjang. Semua menepuk pundak Gadis. "Sudahlah Gadis, kamu akan bertemu laki-laki lain yang lebih baik dari Abang," Raden merangkul Gadis. Gadis mengangguk. "Bahagiaku juga sederhana!" Putra menyahut, "Bahagia menurutku, sesederhana boleh pergi ke Batu Cinta, naik perahu, lalu aku bisa mengukir nama Jelita di tiap batunya!" ujarnya bangga. "Aw..kamu romantis sekali sih Put. Aku juga mau dong diukir namanya," senggol Bagus sambil mengedip jenaka. Suara tawa kembali pecah. Kemudian mereka tersadar. "Dara, kamu kok diam saja sih daritadi. Senyum senyum sendiri begitu. Coba dong kamu bilang, sesederhana apa bahagia buat kamu?" Putri merangkul Dara. "Aku? Bahagia menurutku?" "Iya Dara. Kamu diam saja daritadi. Tinggal kamu nih yang belum komentar. Seperti apa bahagiamu?" Raden mengulang pertanyaan Putri. "Aku? Hmm..." Dara mulai berpikir, lalu ia menutup matanya seakan membayangkan sesuatu sambil berujar, "Bahagia itu sederhana. Sesederhana bisa berkumpul bersama sahabat-sahabat malam ini, sesederhana boleh mendengar cerita kalian malam ini, sesederhana melihat tawa dan raut bahagia dari wajah kalian saat ini, aku ada di antara manusia-manusia yang menyayangiku, bahagia itu...sederhana," Dara tersenyum, membuka matanya, dan dilihatnya teman-temannya berkaca-kaca. Dara beringsut maju. Ia merentangkan tangannya. Mereka berpelukan. Mereka bahagia.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bangun terlambat di pagi hari.
Sesederhana menyantap indomie goreng rasa ayam bawang dengan telur setengah matang di malam hari.
Sesederhana mampu menonton konser Korea, meski hanya bisa dari televisi.
Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari sang kekasih pujaan hati.
Sesederhana bisa melihat mata orang yang dikasihi, meski hanya sedetik, tetapi melekat di hati.
Sesederhana naik perahu ke Batu Cinta dan mengukir nama di tiap batu yang ditemui.
Sederhana.
Sesederhana ada di antara orang-orang yang dicintai, dipeluk, merasa dilindungi.
Ya, menjadi bahagia itu, sederhana.
Jakarta, 30 April 2013
Mereka adalah manusia biasa. Sekelompok remaja yang baru saja selesai ujian negara. Sekelompok remaja yang baru menuntaskan kewajiban belajar 12 tahun, dan kini berkumpul bersama berbagi cerita. Sekelompok remaja yang tumbuh bersama. Sekelompok remaja biasa yang entah bagaimana caranya, menemukan sendiri apa itu bahagia. Dari sisi perspektif masing-masing pribadi. Ya, mereka menemukan bahwa menjadi bahagia sangatlah sederhana.
"Bahagia itu sederhana," kata Gadis. "Sederhana?" Ayu cekikikan. "Iya, sederhana. Banyak hal sepele di dunia ini yang bisa dengan mudah membuat kita bahagia, " tukas Gadis mengeraskan wajahnya, memberi tanda ada keseriusan pada nada suaranya. "Sesederhana apa maksudmu?" Bagus bertanya. "Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari kekasihmu, Bagus," Raden mengangguk-angguk seraya berkacak pinggang. Bagus menyeringai, "Itu kan kamu! Bagiku, sesederhana bangun terlambat di pagi hari!" "Astaga Bagus...rendah sekali level bahagiamu ya.." Putri tertawa. "Itukan menurutku! Memang sesederhana apa bahagiamu, hah?" Bagus menantang Putri. "Aku? Bahagia itu sederhana. Sesederhana seandainnya aku bisa menonton konser Korea di Singapura bulan depan," Putri menerawang. "Hahahahaha...astaga Putri..mahal sekali bahagiamu!" Ayu kembali cekikikan. "Ih..biar saja! Nonton di televisipun aku rela! Asal bisa melihat Siwon beraksi..." Putri menerawang lagi. Ayu tak berhenti cekikikan hingga memukul mukul tepian sofa. "Memang hal sederhana apa yang membuatmu bahagia, Yu?" Raden bertanya. "Aku? Kalau aku...bahagiaku itu, saat bisa makan indomie goreng rasa ayam bawang pakai telur setengah matang buatan Ibuku! Hmm...enakkkk" Ayu yang memang gemuk itu menepuk perutnya. "Ah, dasar Ayu. Makaaaann terus di kepalanya," Gadis ikut menepuk perut Ayu. "Ahh.. Gadisss.. jangan pegang bagian tubuhkuuuu. Awas kamu yaaa," Ayu cemberut, membuat Gadis makin bernafsu meremas lengan Ayu yang empuk itu. Membuat teman-temannya yang lain turut tertawa. "Gadis, memang seperti apa bahagiamu?" Raden bertanya di sela tawanya. "Kalau aku... bahagia itu sesederhana melirik ujung mata Abang setelah berbulan-bulan tidak bertemu..." Gadis menunduk, menarik nafas panjang. Semua menepuk pundak Gadis. "Sudahlah Gadis, kamu akan bertemu laki-laki lain yang lebih baik dari Abang," Raden merangkul Gadis. Gadis mengangguk. "Bahagiaku juga sederhana!" Putra menyahut, "Bahagia menurutku, sesederhana boleh pergi ke Batu Cinta, naik perahu, lalu aku bisa mengukir nama Jelita di tiap batunya!" ujarnya bangga. "Aw..kamu romantis sekali sih Put. Aku juga mau dong diukir namanya," senggol Bagus sambil mengedip jenaka. Suara tawa kembali pecah. Kemudian mereka tersadar. "Dara, kamu kok diam saja sih daritadi. Senyum senyum sendiri begitu. Coba dong kamu bilang, sesederhana apa bahagia buat kamu?" Putri merangkul Dara. "Aku? Bahagia menurutku?" "Iya Dara. Kamu diam saja daritadi. Tinggal kamu nih yang belum komentar. Seperti apa bahagiamu?" Raden mengulang pertanyaan Putri. "Aku? Hmm..." Dara mulai berpikir, lalu ia menutup matanya seakan membayangkan sesuatu sambil berujar, "Bahagia itu sederhana. Sesederhana bisa berkumpul bersama sahabat-sahabat malam ini, sesederhana boleh mendengar cerita kalian malam ini, sesederhana melihat tawa dan raut bahagia dari wajah kalian saat ini, aku ada di antara manusia-manusia yang menyayangiku, bahagia itu...sederhana," Dara tersenyum, membuka matanya, dan dilihatnya teman-temannya berkaca-kaca. Dara beringsut maju. Ia merentangkan tangannya. Mereka berpelukan. Mereka bahagia.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bangun terlambat di pagi hari.
Sesederhana menyantap indomie goreng rasa ayam bawang dengan telur setengah matang di malam hari.
Sesederhana mampu menonton konser Korea, meski hanya bisa dari televisi.
Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari sang kekasih pujaan hati.
Sesederhana bisa melihat mata orang yang dikasihi, meski hanya sedetik, tetapi melekat di hati.
Sesederhana naik perahu ke Batu Cinta dan mengukir nama di tiap batu yang ditemui.
Sederhana.
Sesederhana ada di antara orang-orang yang dicintai, dipeluk, merasa dilindungi.
Ya, menjadi bahagia itu, sederhana.
Jakarta, 30 April 2013
Jumat, 26 April 2013
Seorang Wanita
Ketika kau membuat seorang wanita menangis, kau mencuri
sebagian hatinya.
Ketika kau membuat seorang wanita bersedih dan berduka, kau
merampas kebahagiaannya.
Ketika kau menyakiti hati seorang wanita, kau meninggalkan
bekas luka mendalam pada jiwanya.
Ketika kau mematahkan hati seorang wanita, kau menghilangkan
sebagian hidupnya.
Ketika kau meninggalkan seorang wanita, kau mematikan segala
rasa dalam dirinya.
Ketika kau memaki seorang wanita dengan kata-kata kasar, kau
membuat dia murung dan trauma.
Ketika kau memaksakan kehendakmu pada seorang wanita, kau
menjadikannya pribadi yang pemberontak dan ketakutan.
Ketika kau membuat janji pada seorang wanita, kau memberi
harapan baru bagi dirinya.
Ketika kau memuji seorang wanita, kau membuat dia semakin
cantik.
Ketika kau membahagiakan seorang wanita, kau terlatih
membahagiakan ibumu.
Dan ketika kau belajar mencintai seorang wanita, kau belajar
untuk menjadi tabah dan sabar dalam kehidupan...
Abang
-->
Kepada
langit malam yang kian meremang : tolong tetap sinari tidur malam orang-orang
yang saya kasihi, ya?
Tertanda, saya.
Kepada angin yang
berhembus pilu seakan lelah menjadi kurir perasaan : saya kangen abang. Saya
khawatir sama abang. Sehatkah ia? Dimana ia berada malam ini? Sudah makankah ia
malam ini? Lagu apa yang sedang digubahnya malam ini? Sholat tepat waktukah ia hari
ini? Begitu banyak pertanyaan, angin. Saya ingin berontak. Terlalu banyak kisah
yang ingin saya bagi, tapi sayangnya saya tidak bisa. Saya bisu bila menyangkut
perasaan saya ke abang. Saya harap kali ini angin sudi menghembuskan nafas
rindu ini, tepat di hati abang. Saya kangen abang.
Tertanda, saya.
Kepada bintang yang
berpijar di langit kelam : mata saya tidak bisa terpejam. Saya kangeeeenn
sekali sama abang. Saya ingin ketemu abang. Sudah terlelapkah ia saat ini? Saya
kepingin ukir nama abang di salah satu bintang. Bintang, tolong jaga abang
malam ini yaaa...
Tertanda, saya.
Surat demi surat. Surat yang dia sadari tidak akan
terjawab, kepada langit, angin, mentari, awan, bintang dan tak lupa pada bulan,
berisi kegundahan, harapan, bahkan rasa syukur tak terucap dan tidak bisa
dibagikan. Tetapi, ia tidak menyerah dan semua berujung pada doa bagi satu
orang yang sama, abang. Sosok yang baru dikenalnya seujung kuku, tapi mampu
menghantuinya selama berhari-hari, berbulan-bulan, ataupun bahkan bisa jadi
menjadi bertahun-tahun. Sosok yang membuatnya rela berhenti sejenak untuk rehat
di dada bidang abang, beristirahat dari pelarian bertahun-tahun dari kenyataan,
membuatnya mau mendarat barang sebentar dari misinya untuk terus terbang bebas
tanpa dikendalikan. Semua berubah, karena abang. Abang memberinya cara pandang
baru mengenai kebebasan. Titik sudut yang sama sekali berbeda dari definisi
bebas yang selama ini ia percaya, ia khidmati. Sosok yang pertama kali
menanyakan alasan mengapa ia lari selama ini, dan sosok yang sama yang juga
mempertanyakan apakah alasan itu valid, bisa dipahami dan dimengerti, ataukah
sebetulnya alasan itu hanyalah kedok untuk menutupi sebuah ketakutan besar akan
kemampuan alami manusia, jatuh cinta. Masalahnya, abang benar. Ia takut jatuh
cinta, dan sosok itu mengingatkannya pada kenyataan itu, dan mengungkapkan
mengapa ia takut jatuh cinta. Ia takut ditinggalkan. Ia takut disakiti.
Sesederhana itu. Alasan praktis yang membuatnya trauma bertahun-tahun,
membuatnya berhenti berharap akan adanya kasih sayang. Tetapi, baginya abang
berbeda. Bersama abang, semua terlihat begitu sederhana, tidak rumit. Jatuh
cinta terasa mudah, menyenangkan, karena abang selalu ada disana, siap
menangkap tubuhnya, tampak jelas bahwa sosoknya ada, dan terjangkau, dia bisa
menjamah dan menyentuhnya. Setelah berpuluh sosok datang dan pergi, ternyata
sosok abanglah yang bisa kembali membuatnya percaya dan kembali berharap adanya
cinta. Karena ada abang yang mendampingi.
Enam bulan. Perjalanan cukup singkat tapi bermakna dalam.
Selama enam bulan, yang dirasakan hanyalah rasa aman. Aman tidak akan disakiti,
ditinggal apalagi. Tetapi ternyata takdir berkata lain. Ia kembali patah hati.
Ironisnya, kini hatinya diremukkan oleh sosok yang sama yang dulu menemukan
hatinya dan membuatnya percaya. Abang. Ia kembali harus menerima kenyataan
adanya perbedaan selalu berpotensi menghancurkan. Alasan perbedaan. Salib dan
tasbih. Perbedaan keyakinan yang memang sudah dari awal disadari, bisa
menimbulkan perpecahan. Namun, kedua hati berjuang mengabaikan fakta itu dan
mencoba menjalani hari seperti biasa. Klise. Tapi begitu adanya. Abang
meninggalkannya. Meninggalkan ia dan hatinya yang terlanjur berlabuh dan
berjangkar terlalu lama. Ia kembali harus menerima bahwa dirinya tidak lebih
dari sekadar halte, tempat perhentian hati abang yang layaknya sebuah bis kota,
hanya berhenti beberapa menit sebelum akhirnya akan kembali mencari halte yang
lain. Padahal baginya, abang adalah pegangannya. Kini ia kehilangan arahnya.
Kembali ia berpura-pura. Tertawa seakan-akan bahagia, padahal menutupi
kenyataan ada lubang besar menganga di hatinya. Karena abang. Ia ingin kembali
terbang, tetapi seperti burung yang sayapnya patah, ia terluka. Ia ingin
kembali berlari, tetapi kehilangan tujuan. Jadilah ia kini diam mematung. Tidak
bergerak. Tidak kembali berjalan. Ia bingung. Kemana lagi ia harus
menggantungkan asa dan harapnya? Akhirnya ia memutuskan menulis doa kepada
Tuhan melalui perantara angin, langit, mentari, bintang, bulan, yang
diyakininya abang juga merasakan adanya keberadaan mereka.
Ada sedikit kelegaan padanya saat menuliskan
surat-suratnya. Pembebasan. Mungkin itu kata yang paling tepat dikatakan.
Jiwanya perlahan terbang lagi bersama angin, dan harapannya kembali dituntun
oleh bintang. Topengnya luruh meleleh oleh sinar mentari. Ia belajar apa
adanya. Jujur pada dirinya. Membiarkan dirinya berkelana sendiri, biarpun arah
dan tujuannya tidak pasti. Alih-alih terluka, ia mencoba bersyukur, pasrah dan
berdoa. Masih bisa dirasakannya belai abang di wajahnya, cium sayang abang di
bibirnya, dan kata-kata penuh cinta masih terdengar merdu di telinganya.
Cintanya pada abang, belum pudar dan masih tersisa. Tetapi kini ia merasakan
cinta dalam bentuk dimensi berbeda. Ia cinta dunianya. Karena abang.
Jakarta, 10 Januari 2013
Langganan:
Komentar (Atom)