Translate

Minggu, 19 Januari 2014

Ini Mimpi Siapa?

       Tadi saya pergi ke rumah duka RSPAD Gatot Subroto. Senior saya, sekaligus teman sekolah kakak saya dari SD hingga SMA, hari ini dikabarkan meninggal dunia, karena kanker otak. Tadi, ketika saya dan kakak saya ke sana, jenazahnya masih berada di ruang jenazah, belum masuk ke ruang rumah duka. Ketika saya dan kakak saya datang, tidak tampak keluarga dari senior saya itu yang hadir. Menurut satpam yang jaga, keluarganya sedang pergi. Mungkin sedang mengurus peti dan sebagainya.
Jenazah senior saya, yang sudah didandani dan dipakaikan baju putih, tampak seperti hanya tidur, tenang sekali. Mungkin ia baru selesai menjalani operasi, jadi di kepalanya yang sudah dibotaki itu, ada bekas jahitan. Melihat jenazahnya itu, membuat saya berpikir. Senior saya ini adalah mahasiswa psikologi semester 5 di Atma Jaya. Usianya hari ini genap 20 tahun lebih 6 bulan. Begitu singkat. Saya jadi berpikir, begitu usia manusia bisa jadi terlalu singkat untuk dijalani.
     Untuk tulisan kali ini, bukan kematiannya yang mau saya bahas, tapi kematian itulah yang menjadi inspirasi.
Usia. Berapa sering kita berpikir mengenai kapan saatnya nanti kita akan 'berpulang'? Seberapa sering kita melihat kematian seseorang dan merenungkan kapan tiba saatnya bagi kita yang berada di posisi itu. Setelah berpikir berapa lama lagi kita hidup, berapa sering kita berpikir dan merenungkan, apa saja mimpi-mimpi yang telah kita jalani, apa saja yang sudah kita perbuat di dunia ini. Seringkali, kita merasa waktu terlalu sempit untuk melakukan berbagai hal yang kita sukai, kita inginkan di dunia ini, sehingga kita merasa tidak mungkin untuk mencoba memulai meraih mimpi. Atau bahkan, kita merasa bahwa waktu kita justru masih lama, hingga kita suka menunda, yang akibatnya kita menyesali waktu yang terbuang sia-sia.
Sejujurnya, saya selalu takut bertambah usia. Saya selalu ketakutan, menyadari bahwa setiap tahun, usia saya akan bertambah, dan berpikir bahwa berbagai kesempatan yang bisa saya ambil semakin sedikit. Betapa tidak, segala sesuatu di dunia ini selalu punya syarat batas usia. Oleh karena ketakutan itu, setiap malam saya akan menginjak usia baru di esok harinya, saya selalu gelisah, saya tidak bisa tidur, membayangkan saya akan menjadi orang yang lebih tua di esok hari. Selain itu, saya juga gelisah karena memikirkan hal apa saja yang sudah saya jalani selama setahun kehidupan saya. Mimpi apa saja yang sudah saya raih, hal baik apa saja yang sudah saya lakukan. Kemudian saya akan merasa bersalah luar biasa, saat sadar bahwa banyak hal belum selesai saya lakukan selama setahun kehidupan saya itu.
       Setelah melayat tadi, saya berpikir. Selama 18 tahun lebih kehidupan yang sedang saya jalani ini, banyak hal telah saya lalui. Masuk UI, menjadi mahasiswa fakultas Psikologi, berhasil lolos saringan kegiatan ini-itu. Lalu saya berpikir. Benarkah ini yang saya inginkan? Benarkah ini yang ingin saya jalani? Untuk kasus masuk UI dan menjadi mahasiswa Psikologi, saya berani jamin memang ini yang saya inginkan dan saya bersyukur pada Tuhan bahwa saya diberi kesempatan menjalani mimpi itu.
     Akan tetapi, untuk menjalani berbagai kegiatan, terutama di bidang musik, apa ini yang saya inginkan? Apa ini yang menjadi semangat saya untuk terus menjalani hari? Kenapa setiap kali saya harus latihan, itu menjadi beban berat bagi saya? Bukankah seharusnya musik menjadi salah satu penyegar jiwa? Entahlah. Perlu diketahui, saya belajar musik sejak saya kecil. Akan tetapi, semua selalu gagal. Saya tidak berhasil mahir di satu alat musik pun. Kegagalan terparah saya ketika saya ujian gitar tahun 2012. Saya tidak lulus ujian. Sejak itu, saya makin yakin bahwa bukan di situ bidang saya. Akan tetapi, saya mencoba peruntungan lagi dengan ikut orkestra di sekolah, saya memilih trombone. Saya sempat jatuh cinta. Namun, ketika kuliah dan saya ikut orkestra di kampus, saya makin yakin bahwa musik bukan sesuatu yang ingin saya tekuni.
    Sejak saya kuliah, sering sekali saya mendengar senior saya menekankan bahwa kita harus menjalani sesuatu yang memang sudah menjadi passion, lakukan sesuatu yang memang kita senangi. Dari semua talkshow yang saya ikuti, semua narasumber mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menjalani sesuatu yang bukan kita senangi, bukan menjadi passion. Dengan demikian, maka kita akan dengan rela menjalani semua kegiatan, tidak akan merasa lelah meski harus pulang malam, tidur lebih sebentar dibanding orang lain. Bagi saya pribadi, harusnya kita melakukan sesuatu yang membuat kita merasa bahwa waktu kita tidak terbuang percuma. Untuk kasus saya dan musik, musik bukanlah sesuatu yang sia-sia, akan tetapi bagi saya, tidak berpengaruh banyak. Saya ingin keluar. Saya ingin menggali potensi diri saya di bidang lain. Tapi, saya tahu tidak bisa semudah itu keluar. Saya harus kembali berpikir motivasi apa yang dulu membawa saya mendaftar orkestra. Banyak yang bilang, orkestra sudah saya pilih, maka saya harus bertanggung jawab. Bisa saja sih, saya tetap bertahan dengan motivasi bahwa saya bertanggung jawab. Tapi, akankah itu setimpal? Bagi saya, motivasi tanggung jawab tidaklah cukup. Saya tidak akan maksimal. Menurut saya, tanggung jawab bisa dilakukan dengan berani mengatakan harus mundur ketika memang sudah tidak sanggup lagi. Saya merasa, saya sudah bertanggung jawab dengan sudah menjalani itu selama beberapa bulan ini. Setidaknya, saya sudah mencoba. Tapi, saya juga punya tanggung jawab moral terhadap diri saya sendiri. Saya harus bisa memikirkan diri saya, memahami diri bahwa saya tidak sanggung menjalaninya. Saya pikir, dengan terus memaksa diri, saya malah menyiksa diri sendiri. Tidakkah begitu? Saya sendiri sadar, bahwa keluar merupakan hal besar. Perbuatan saya itu akan membuat banyak pihak tidak senang. Namun, perlu dipahami bahwa jika saya terus bertahan, memaksa diri, percayalah, akan makin banyak pihak merasa kecewa. Saya akan selalu punya alasan untuk minggat. Lagipula, mimpi siapa itu yang saya jalani apabila terus bertahan? Saya punya mimpi besar di depan sana, di bidang lain. Entah kenapa, saya percaya bahwa saya akan maksimal di bidang lain. Saya pikir, waktu yang saya pakai untuk mencari alasan minggat bisa dipakai untuk mengikuti kegiatan lain yang sesuai minat saya. Usia saya kian mendekati 20, hanya tersisa sedikit waktu untuk banyak mencoba berbagai hal untuk menggali diri, sebelum dunia kerja saya rambah. Saya tidak ingin ketika saya berbalik badan untuk mengingat kembali tahun-tahun sebelumnya, saya merasa menyesal karena menghabiskan waktu untuk banyak mengeluh, bukannya melakukan hal yang saya senangi dan betul-betul ingin saya tekuni. Untuk menutup, mari kita pertanyakan berbagai hal yang sudah kita jalani, renungkan ini "Mimpi Siapa ini yang Saya Jalani?". Semoga semua ini memang mimpi kita pribadi, tanpa paksaan, karena usia kita terlalu singkat untuk dijalani dengan beban selalu mau menyenangkan hati orang lain.

Selamat malam :)

Selasa, 07 Januari 2014

Selesai

Aku membuka kembali pesan-pesan lama darimu malam ini. Bodohnya aku.
Membiarkan diriku merasakan sakit, tiap aku membaca pesan demi pesan berisi nafas cinta pada tiap katanya. Ini bukan sakit biasa. Sakit karena membiarkan luka lama terbuka, anehnya selalu mampu membuatku tidur lebih lelap dari malam-malam lainnya. Meskipun sakit itu harus membuatku merasa sesak untuk beberapa saat.
Aku membiarkan mataku membaca kata demi kata yang tercetak, lalu membiarkan hatiku meresapi maknanya dalam-dalam. Inilah yang kusukai dari pesan tertulis, tiap kata yang tertulis di atasnya tidak pernah berubah makna.
Aku membaca, sangat perlahan. Bahkan kecepatanku membaca dapat dikalahkan oleh kura-kura yang berjalan cepat. Berusaha mengingat tiap detik momen yang tersimpan di balik tiap kata yang tertulis di sana. Aku kesakitan.
Entah mau sampai kapan kebiasaan ini berlanjut. Nyatanya, rasa sayang ini tidak pernah surut. Meskipun waktu sudah berjalan lebih dari 2 tahun.
Kemudian mataku tiba di suatu sudut. Sudut yang menampilkan pesan terakhirmu saat itu. Saat kita berpisah, saling menemukan jalan sendiri-sendiri. Lalu muncul kristal air dari ujung mataku. Aku menangis, aku kesakitan...
Lalu aku sadar, aku harus berhenti. Kadang rasa sayang harus diimbangi dengan memikirkan diri sendiri. Hatiku boleh dingin sejak kau membekukannya, akan tetapi aku yakin akan segera meleleh oleh mentari yang dibawakan seseorang untukku, tahun ini. Kemudian aku tersenyum. Kututup pesan-pesan lama darimu, malam ini. Aku mendekap tiap pesan yang ada, dekat di hati, lalu aku berdiri, meletakkan semua pesan itu jauh di sudut yang tak dapat kujangkau lagi. Lalu aku pergi, dan tak menoleh lagi.


Jakarta, 8 Januari 2014
1 : 23 AM
Aku merindukan hadirmu, tapi aku tahu, aku harus pergi
(Panda & Domba)

Goodbye 2013 :)

Saat ini, menjelang pagi ke-empat pada bulan Januari 2014. Tanpa terasa, langkah kaki berjalan menjauhi tahun 2013. Saya rasa, belum terlambat untuk membuat mengenang sedikit berbagai hal luar biasa yang terjadi sepanjang tahun 2013, sebagai refleksi dan acuan untuk membuat perubahan menuju arah yang lebih baik di tahun 2014.
Tahun 2013 merupakan tahun yang luar biasa. Tahun yang mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu mulus dan berjalan sesuai rencana kita. Meskipun demikian, bukan berarti hasilnya lebih buruk dari rencana kita, akan tetapi bisa jadi lebih indah dari yang kita harapkan. Berbagai kesempatanpun juga hadir di tahun yang penuh berkat itu. Siapa sangka, saya ternyata pernah merasakan menjadi sutradara? Siapa sangka saya bisa menjadi salah satu bagian dari make up artist di pementasan teater kampus? Siapa sangka saya terpilih menjadi ketua Quo Vadis 2014? Siapa yang menyangka, bahwa saya akhirnya menjalani mimpi saya untuk menjadi mahasiswi fakultas Psikologi Universitas Indonesia? Karena semua kesempatan itulah, saya menganggap tahun 2013 merupakan tahun yang penuh berkat.
Tahun 2013 juga seakan berjalan terlalu cepat. Rasanya, baru kemarin saya berada di rumah salah satu kawan SD, untuk merayakan pergantian tahun bersama kawan-kawan yang lain. Masih bisa saya bayangkan berada di lantai atas bersama kawan-kawan, menonton kembang api yang menyala bergantian. Dilanjutkan dengan bulan-bulan berikutnya, saya sibuk belajar untuk menyiapkan diri menjelang ujian akhir saya di SMA. Lalu waktu berjalan cepat, dan sampailah saya pada masa ujian itu. Saya ingat betul, banyak hal menarik yang terjadi pada saat itu. Saya ingat kata-kata seorang guru SMA saya, bahwa saat melakukan percobaan biologi dengan menggunakan makhluk hidup, sebaiknya diajak bicara, agar objek percobaan kita juga dapat bekerjasama dengan baik, kemudian hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Nah, ketika ujian praktik biologi, saya mendapat topik pengaruh enzim, yang menggunakan hati ayam sebagai bahan percobaan. Ketika sedang menggerus hati ayam, hati ayam ini terasa sangat keras dan sulit sekali untuk dihaluskan. Maka, mengingat kata-kata guru saya itu, saya ajak hati ayam ini bicara. Saya katakan, "Ayo dong, halus. Bantuin gue buat lulus.." Kata-kata itu diulang terus. Kemudian, entah karena sugesti atau memang sudah saatnya hati ayam ini halus, atau karena keajaiban, hati ayam ini menjadi mudah dihaluskan. Sejak saat itu, saya mengajak bicara semua objek percobaan saya, untuk semua mata pelajaran.
Kemudian waktu bergulir cepat, dan tiba-tiba saya sedang berada di Bandung. Bersama sahabat-sahabat saya semasa SMP dan SMA. Kami pergi ber-7, kurang 2 lagi kawan yang seharusnya pergi bersama kami. Kami pergi selama 3 hari dan 2 malam.  Perjalanan yang singkat, akan tetapi bagi saya sangat membekas. Saya banyak belajar selama 3 hari dan 2 malam itu. Saya belajar bahwa menjadi bahagia sangatlah sederhana. Bahwa hanya dengan berada di antara orang-orang yang mencintai saya, yang mau menerima saya apa adanya, tanpa harus melakukan sesuatu yang spesial-pun, saya bisa bahagia. Itulah yang saya pelajari, penerimaan. Bahkan di antara kami bertujuh pun, masih ada yang saling tidak suka, akan tetapi masih berusaha menerima kehadiran orang itu di sampingnya. Betapa perbedaan yang ada justru mampu membuat kami makin kuat dan menyayangi satu sama lain.
Tak lama kemudian, saya berada di aula SMA St. Theresia sebagai siswi SMA untuk yang terakhir kalinya. Ya, saya berada di acara prom night SMA. Malam yang menakjubkan. Banyak hal terjadi malam itu. Bahkan saya masih ingat rasanya menari waltz berpasangan dengan teman saya, bersama teman-teman yang lain. Berbagai kejadian duka dan suka, semua terjadi malam itu.
Lalu, tiba saatnya saya mencari tempat baru untuk menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi. Dari dulu, saya selalu ingin menjadi bagian dari Universitas Indonesia, meskipun saya tahu bahwa mimpi itu sulit digapai. Sekali lagi, tahun 2013 merupakan tahun yang penuh berkat. Saya lulus tes dan tak lama kemudian, saya resmi menyandang status mahasiswi fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2013.
Sejak saya menjadi mahasiswi, banyak hal dalam diri saya yang berubah. Saya menjadi lebih pendiam, lebih tertutup. Saya merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Saya lebih mudah kesepian. Entah itu karena saya mulai tinggal di kost, atau karena efek sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Akan tetapi, saya sadar bahwa saya menjadi lebih sensitif. Emosi saya justru lebih cepat memuncak. Saya tidak suka jika emosi itu mulai muncul. Apalagi, banyak hal baru yang tidak saya persiapkan sebelumnya akan terjadi. Saya mengalami sendiri adanya kendala dari perbedaan SARA dalam pergaulan, mengalami sendiri bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya putuskan dengan mudah, karena efeknya akan berbuntut panjang. Kadang, saya merasa tidak bahagia dengan pilihan-pilihan yang saya ambil saat saya sudah menjadi mahasiswi, namun terpaksa saya jalani karena topeng yang dinamakan komitmen. Kadang, saya ingin mengatakan, persetan dengan komitmen, saya ingin lari, saya ingin bebas. Ada beberapa kegiatan yang sama sekali tidak membuat saya bahagia. Kegiataan yang seharusnya menjadi penyaluran emosi, menjadi tempat saya untuk bersenang-senang, justru membuat saya merasa sesak napas, saya merasa dipenjara. Kegiatannya tidak salah, hanya saja saya kemudian sadar bahwa pilihan kegiatan itu tidak cocok dengan saya. Itu bukan kegiatan yang sesuai dengan minat saya. Akan tetapi, demi memuaskan pihak-pihak tertentu, saya mencoba bertahan.
Waktu cepat berlalu, dan saya tiba di bulan Desember. Bulan yang cukup berat untuk saya dan keluarga besar. Eyang saya sakit cukup kritis, membuat kami sekeluarga sedih dan tidak bisa merayakan perayaan Natal dan liburan dengan sepenuh hati, karena pikiran dan hati kami sedang berfokus pada kesembuhan eyang, dan masih terus berharap adanya keajaiban dan mukjizat dari Tuhan, hingga hari ini.
Tahun 2013 memang penuh dengan momen suka dan duka. Tentu, seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak cinta datang dan pergi. Ada beberapa wajah baru yang hadir cukup lama dan datang bergantian di hati saya, menjadi warna tersendiri di perjalanan hidup saya sepanjang tahun 2013. Mereka merupakan sosok-sosok perhatian yang membuat saya sadar betapa saya sangat dicintai dan saya tidak sendirian. Akan tetapi, sayangnya saya tidak mampu membuat beberapa dari mereka merasa dicintai balik oleh saya, dan akhirnya mereka terluka. Seandainya saya cukup berani menatap wajah mereka satu per satu, saya ingin katakan bahwa saya minta maaf dan berterimakasih atas hadirnya mereka yang saya percayai memang sudah waktunya. Toh pada akhirnya, saya tidak akan pernah mampu membuat semua orang senang dengan apa yang saya lakukan. Tidak hanya cinta yang saya rasakan sendiri. Di akhir tahun 2013 pun, saya melihat bentuk cinta yang sesungguhnya dari orang terdekat saya. Dari eyang saya dari Ibu. Sepasang orang tua, yang hidup bersama dengan kondisi tubuh yang kian melemah. Saya melihat bentuk cinta yang sesungguhnya dalam bentuk pelayanan. Saya melihat bagaimana eyang Putri saya begitu sabar menghadapi Eyang Kakung yang mulai sulit mendengar, mulai sakit-sakitan, dan mulai tergantung dengan orang lain. Padahal, Eyang Putri juga beranjak tua. Akan tetapi, ia berusaha tegar dan sehat demi dapat mengurus Eyang Kakung. Saya melihat bentuk nyata dari kesetiaan dan cinta mendalam, yang kemudian menjadi inspirasi saya.
Selain tentang cinta, saya juga merasakan bahwa persahabatan mahal sekali harganya. Benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa makin kita dewasa, maka pertemanan akan berbentuk seperti piramida. Makin lama semakin sedikit. Itulah yang saya alami. Makin hari, saya makin tahu siapa yang betul-betul merupakan sahabat saya. Yang selalu hadir dan ada pada waktu yang tepat. Yang mampu membuat pelangi sesudah hujan turun dari mata saya, yang selalu mampu membuat saya bahagia meskipun dengan cara-cara yang paling sederhana. Yang tidak menuntut saya macam-macam hal yang tidak mampu saya penuhi hanya untuk syarat menjadi teman mereka. Untuk itu, saya sangat bersyukur karena adanya mereka yang selalu mau berdoa untuk saya. Akan tetapi, bagi saya, sesungguhnya orang-orang yang paling membantu saya menjalani semua masa sulit dan bahagia di tahun 2013 yaitu keluarga saya. Manusia-manusia yang tidak pernah mengeluh dengan berbagai kondisi saya yang bisa tiba-tiba berubah mood dengan drastis, yang menyayangi saya tanpa adanya syarat dan batas. Pada akhirnya, saya berterimakasih pada Tuhan karena Ia lah yang memberikan saya semua kawan, semua cinta, keluarga, serta berkat melimpah yang boleh saya nikmati sepanjang tahun 2013.
Baiklah, itulah sedikit hal yang saya bagi mengenai perjalanan saya di tahun 2013. Saya masih berharap adanya perubahan baik dalam diri saya di tahun 2014. Akhir kata, untuk semua hal baik ataupun buruk yang terjadi di tahun 2013 dan semua orang yang terlibat di dalamnya, saya cuma ingin bilang, terimakasih. :)

-4 Januari 2013, dinihari-