Tadi saya pergi ke rumah duka RSPAD Gatot Subroto. Senior saya, sekaligus teman sekolah kakak saya dari SD hingga SMA, hari ini dikabarkan meninggal dunia, karena kanker otak. Tadi, ketika saya dan kakak saya ke sana, jenazahnya masih berada di ruang jenazah, belum masuk ke ruang rumah duka. Ketika saya dan kakak saya datang, tidak tampak keluarga dari senior saya itu yang hadir. Menurut satpam yang jaga, keluarganya sedang pergi. Mungkin sedang mengurus peti dan sebagainya.
Jenazah senior saya, yang sudah didandani dan dipakaikan baju putih, tampak seperti hanya tidur, tenang sekali. Mungkin ia baru selesai menjalani operasi, jadi di kepalanya yang sudah dibotaki itu, ada bekas jahitan. Melihat jenazahnya itu, membuat saya berpikir. Senior saya ini adalah mahasiswa psikologi semester 5 di Atma Jaya. Usianya hari ini genap 20 tahun lebih 6 bulan. Begitu singkat. Saya jadi berpikir, begitu usia manusia bisa jadi terlalu singkat untuk dijalani.
Untuk tulisan kali ini, bukan kematiannya yang mau saya bahas, tapi kematian itulah yang menjadi inspirasi.
Usia. Berapa sering kita berpikir mengenai kapan saatnya nanti kita akan 'berpulang'? Seberapa sering kita melihat kematian seseorang dan merenungkan kapan tiba saatnya bagi kita yang berada di posisi itu. Setelah berpikir berapa lama lagi kita hidup, berapa sering kita berpikir dan merenungkan, apa saja mimpi-mimpi yang telah kita jalani, apa saja yang sudah kita perbuat di dunia ini. Seringkali, kita merasa waktu terlalu sempit untuk melakukan berbagai hal yang kita sukai, kita inginkan di dunia ini, sehingga kita merasa tidak mungkin untuk mencoba memulai meraih mimpi. Atau bahkan, kita merasa bahwa waktu kita justru masih lama, hingga kita suka menunda, yang akibatnya kita menyesali waktu yang terbuang sia-sia.
Sejujurnya, saya selalu takut bertambah usia. Saya selalu ketakutan, menyadari bahwa setiap tahun, usia saya akan bertambah, dan berpikir bahwa berbagai kesempatan yang bisa saya ambil semakin sedikit. Betapa tidak, segala sesuatu di dunia ini selalu punya syarat batas usia. Oleh karena ketakutan itu, setiap malam saya akan menginjak usia baru di esok harinya, saya selalu gelisah, saya tidak bisa tidur, membayangkan saya akan menjadi orang yang lebih tua di esok hari. Selain itu, saya juga gelisah karena memikirkan hal apa saja yang sudah saya jalani selama setahun kehidupan saya. Mimpi apa saja yang sudah saya raih, hal baik apa saja yang sudah saya lakukan. Kemudian saya akan merasa bersalah luar biasa, saat sadar bahwa banyak hal belum selesai saya lakukan selama setahun kehidupan saya itu.
Setelah melayat tadi, saya berpikir. Selama 18 tahun lebih kehidupan yang sedang saya jalani ini, banyak hal telah saya lalui. Masuk UI, menjadi mahasiswa fakultas Psikologi, berhasil lolos saringan kegiatan ini-itu. Lalu saya berpikir. Benarkah ini yang saya inginkan? Benarkah ini yang ingin saya jalani? Untuk kasus masuk UI dan menjadi mahasiswa Psikologi, saya berani jamin memang ini yang saya inginkan dan saya bersyukur pada Tuhan bahwa saya diberi kesempatan menjalani mimpi itu.
Akan tetapi, untuk menjalani berbagai kegiatan, terutama di bidang musik, apa ini yang saya inginkan? Apa ini yang menjadi semangat saya untuk terus menjalani hari? Kenapa setiap kali saya harus latihan, itu menjadi beban berat bagi saya? Bukankah seharusnya musik menjadi salah satu penyegar jiwa? Entahlah. Perlu diketahui, saya belajar musik sejak saya kecil. Akan tetapi, semua selalu gagal. Saya tidak berhasil mahir di satu alat musik pun. Kegagalan terparah saya ketika saya ujian gitar tahun 2012. Saya tidak lulus ujian. Sejak itu, saya makin yakin bahwa bukan di situ bidang saya. Akan tetapi, saya mencoba peruntungan lagi dengan ikut orkestra di sekolah, saya memilih trombone. Saya sempat jatuh cinta. Namun, ketika kuliah dan saya ikut orkestra di kampus, saya makin yakin bahwa musik bukan sesuatu yang ingin saya tekuni.
Sejak saya kuliah, sering sekali saya mendengar senior saya menekankan bahwa kita harus menjalani sesuatu yang memang sudah menjadi passion, lakukan sesuatu yang memang kita senangi. Dari semua talkshow yang saya ikuti, semua narasumber mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menjalani sesuatu yang bukan kita senangi, bukan menjadi passion. Dengan demikian, maka kita akan dengan rela menjalani semua kegiatan, tidak akan merasa lelah meski harus pulang malam, tidur lebih sebentar dibanding orang lain. Bagi saya pribadi, harusnya kita melakukan sesuatu yang membuat kita merasa bahwa waktu kita tidak terbuang percuma. Untuk kasus saya dan musik, musik bukanlah sesuatu yang sia-sia, akan tetapi bagi saya, tidak berpengaruh banyak. Saya ingin keluar. Saya ingin menggali potensi diri saya di bidang lain. Tapi, saya tahu tidak bisa semudah itu keluar. Saya harus kembali berpikir motivasi apa yang dulu membawa saya mendaftar orkestra. Banyak yang bilang, orkestra sudah saya pilih, maka saya harus bertanggung jawab. Bisa saja sih, saya tetap bertahan dengan motivasi bahwa saya bertanggung jawab. Tapi, akankah itu setimpal? Bagi saya, motivasi tanggung jawab tidaklah cukup. Saya tidak akan maksimal. Menurut saya, tanggung jawab bisa dilakukan dengan berani mengatakan harus mundur ketika memang sudah tidak sanggup lagi. Saya merasa, saya sudah bertanggung jawab dengan sudah menjalani itu selama beberapa bulan ini. Setidaknya, saya sudah mencoba. Tapi, saya juga punya tanggung jawab moral terhadap diri saya sendiri. Saya harus bisa memikirkan diri saya, memahami diri bahwa saya tidak sanggung menjalaninya. Saya pikir, dengan terus memaksa diri, saya malah menyiksa diri sendiri. Tidakkah begitu? Saya sendiri sadar, bahwa keluar merupakan hal besar. Perbuatan saya itu akan membuat banyak pihak tidak senang. Namun, perlu dipahami bahwa jika saya terus bertahan, memaksa diri, percayalah, akan makin banyak pihak merasa kecewa. Saya akan selalu punya alasan untuk minggat. Lagipula, mimpi siapa itu yang saya jalani apabila terus bertahan? Saya punya mimpi besar di depan sana, di bidang lain. Entah kenapa, saya percaya bahwa saya akan maksimal di bidang lain. Saya pikir, waktu yang saya pakai untuk mencari alasan minggat bisa dipakai untuk mengikuti kegiatan lain yang sesuai minat saya. Usia saya kian mendekati 20, hanya tersisa sedikit waktu untuk banyak mencoba berbagai hal untuk menggali diri, sebelum dunia kerja saya rambah. Saya tidak ingin ketika saya berbalik badan untuk mengingat kembali tahun-tahun sebelumnya, saya merasa menyesal karena menghabiskan waktu untuk banyak mengeluh, bukannya melakukan hal yang saya senangi dan betul-betul ingin saya tekuni. Untuk menutup, mari kita pertanyakan berbagai hal yang sudah kita jalani, renungkan ini "Mimpi Siapa ini yang Saya Jalani?". Semoga semua ini memang mimpi kita pribadi, tanpa paksaan, karena usia kita terlalu singkat untuk dijalani dengan beban selalu mau menyenangkan hati orang lain.
Selamat malam :)