Kepada langit malam, kuserukan bahwa aku kesakitan. Sakit karena merindukan hadirmu di tiap malamku. Merindukan hadirmu yang kuyakini kini hanya akan menjadi khayalan dan mimpi di siang hari. Merindukan suara tawamu yang renyah mengantarkan aku terlelap di malam hari.
Kepada mentari pagi, kubisikkan bahwa aku kelelahan. Lelah karena terlalu sering memimpikanmu di dalam lelapku. Memimpikanmu yang aku tahu hanya sanggup kugapai melalui seutas doa kepada Tuhan agar rasaku mendampingi hari-harimu. Lelah karena tiap aku terjaga di pagi hari, airmata kerap menetes dari sudut mataku tanpa aku sadari, karena aku memimpikanmu.
Kepada angin yang berhembus manja, kusampaikan bahwa aku ingin berbagi bersamamu. Berbagi semua cerita dan semua emosiku. Membagikan rasa, asa, dan semua mimpiku. Membagikan ketakutan dan kecemasan yang menyesakkan dadaku, hingga aku akhirnya lega dan kembali merasakan adanya nafas teratur di dalam paru-paruku. Seperti yang kita lakukan, dulu.
Kepada rumput yang menari indah diterpa angin sepoi, aku mengatakan bahwa aku kehilangan dirimu. Aku kehilangan semangat yang dulu kau bagikan untukku. Kehilangan kehangatan yang dulu kau bagi tiap kali aku kembali beku karena cinta yang hampir selalu mematahkan hatiku.
Aih... ya.. kepada alam semesta, aku meneriakkan dalam bisu, bahwa aku kehilangan dirimu, sahabatku. Ragamu dekat bersamaku, akan tetapi pikiranmu tidak bersamaku. Sering kupikirkan janji manismu yang mengatakan bahwa kau akan menjagaku, mengingatkanku jika aku berjalan di luar arah yang sudah digariskan. Janjimu yang mengatakan bahwa kau tidak akan meninggalkanku, akan selalu siap jika aku membutuhkanmu. Namun, kini kau menghilang, dan aku tidak tahu kabarmu. Alam semesta, aku merindukan sahabatku..