Translate

Senin, 08 April 2024

TERLAMBAT

Hari ini, lagi-lagi kamu terlambat, datang jam dua, padahal kamu sempat berjanji jam satu pasti kamu sudah tiba. Kembali, aku kecewa. Sempat aku mengomel, kamu bilang "maaf" dan aku tahu dari gerak tubuhmu, kamu takut. Namun kali ini, aku tidak kasihan. Aku gusar. Aku marah. Setelah aku coba maknai apa yang membuatku marah, kesadaranku sampai pada pemaknaan bahwa dengan kamu terus melanggar janji, aku seperti disepelekan. Sudah berkali-kali aku mengatakan apa yang tidak kusuka, tapi rasanya kamu tidak mendengarkan. Apalagi kamu tidak bertanya sama sekali apa yang kurasa dalam diamku sepanjang jalan. Buatku, artinya kamu tidak peduli. Saat kamu minta maaf pun, aku tidak yakin kamu benar-benar menangkap apa yang membuatku marah. Muncul di pikiranmu maafmu diucapkan hanya agar masalah tidak berlarut. Hari ini, aku banyak berpikir. Aku tidak bisa mengubahmu, yang bisa kulakukan hanya mengukur diriku. Seberapa tahan aku dengan sikapmu? Mungkin baiknya aku diam. Belajar menurunkan ekspektasi, atau malah sekalian tidak peduli. Paling tidak, aku jadi bisa menjaga hati dan hemat energi.

Kamis, 09 September 2021

Ku Buka Pintu

Kurasa badaiku sudah berlalu, untuk saat ini. Pintu yang dulu dikunci rapat, saat ini berani kubuka sedikit, kubiarkan jendela juga terbuka agar cahaya mentari dapat mengintip. Lalu saat pintuku tak lagi terkunci, pas sekali kamu berpapasan denganku, lalu kamu izin untuk mengetuk pintuku, dan aku iyakan. Sesaat kemudian, aku tahu. Kamu human chargerku. Kamu beri aku energi yang sebelumnya tidak kusadari kalau aku butuh itu. Kamu mengizinkanku menjadi aku, memberi ruang aman untukku menunjukkan luka, lemah, dan kurangku. Di depanmu, aku mengeluh terus ya? Tapi kamu tidak terganggu. Aku boleh mengeluh sebanyak yang aku perlu, tapi aku tidak boleh berhenti, katamu sih begitu. Bersamamu, rasanya waktu cepat berlalu. Tapi aku tidak takut kamu akan juga hilang seperti waktu, entah apa yang membuatku yakin kamu akan ada disana, tetap sabar menunggu dan aku bisa melihatmu, sejauh apapun aku. Sejak kamu dan aku kembali berpapasan setelah waktu lama memisahkan, aku jadi lebih ingin menyambut hari, karena aku tahu kamu akan menyapa, menemani aku melewati hari yang tak jarang melelahkan. Kemudian di akhir hari, kamu ada disana mengucapkan selamat malam, dan semoga kita memang saling mendoakan. Mungkinkah kamu jawaban atas semua doaku? Sekarang yang kupinta dari Tuhan cuma satu. Semoga aku boleh menikmati keindahan yang tiba-tiba ini. Tanpa ada batasan waktu.

Rabu, 18 Agustus 2021

What Am I Doing?

What am I doing? I'm playing with fire without any protection. I'm playing with my heart with consciously realized that I'm going to be hurt. I would fall in pieces. What am I doing? I rejected my inner voice, my logical thought, and finally drowned without knowing how to swim and go out. What am I doing? I'm causing the damage and not knowing how to fix it. You're coming again, as usual, once in a year. You're asking about my life and forcing me to remember those past years. You're raising all of my hopes, and dropping it from above until it broke into millions, making me have to rebuild it years later. I should know that you're the problem, but my heart resists. Whenever you come, my knees are weak and falling sit. I know that when you come, my heart will give a command to wait. Wait for he would replying to my messages, and asking me to get a call. So, when will you go????

Kamis, 28 Januari 2021

Hujan

Beberapa hari ini, hujan turun deras sekali 
Anehnya, tiap rintik hujan yang mengetuk jendela itu mengingatkan aku akan kamu
Manusia yang tampak sedingin salju tapi hatinya sehangat musim semi 

Tiap aku lihat titik air hujan yang sejenak membekas di tanah, aku ingat masa itu 
Pertama kali kita pergi berdua, juga banyak barisan hujan turun ke bumi
Kita berteduh menunggu hujan reda, lalu kembali berkendara melintasi Jakarta di malam tahun baru

Kalau dulu bersamamu itu aku senang saat hujan karena aku tetap hangat di dekapmu, 
kali ini aku justru mengutuk diriku 
Hujan mengingatkan seberapa besar aku menyalahkan diri, 
karena aku membiarkanmu pergi... 


Jumat, 15 Januari 2021

Tidak apa-apa kalau hari ini kamu merasa kesepian atau mungkin sendirian.
Atau mungkin kamu menyesali hal yang tidak sengaja kamu lakukan, atau tak sengaja mengucapkan sesuatu yang tak seharusnya dikatakan.

Atau mungkin hari ini kamu marah pada dunia yang menurutmu makin membingungkan.
Atau lebih banyak kamu merasa takut karena hidup semakin jauh dari perkiraan. 
Atau mungkin yang muncul lebih banyak senangnya, karena banyak tugas berhasil diselesaikan. 
Rasakan.

Nikmati selama semua rasa itu masih singgah bertamu. 
Peluk semua rasa yang unjuk diri, sampai dia hilang perlahan.
Sadari mereka butuh perhatian, sama rata tanpa kamu bisa pilih salah satu.
Rengkuh semua selama yang mereka mau, sampai mereka sendiri yang mengatakan, "cukup, aku pergi dulu"...

Senin, 14 Desember 2020

Kita Itu Urutan Kancing Baju

Kemarin, aku menemukan buku lama kita, bukti bahwa kita pernah punya cerita berdua. 

Setelah sekian lama aku tidak berani buka, pelan-pelan kubalik lembar demi lembar, isinya kisah kita. 

Sempat aku resapi setiap kalimat yang kita tulis bersama, bisa kutahu ada rasa di setiap katanya.

Ingatanku berkelana pada beberapa tahun lalu, saat kita masih sangat belia. 

Terlalu banyak peristiwa yang hanya untuk kita saja. 

Masih teringat masa kita saling suka, menahan diri agar tidak jatuh cinta, menghilang tidak bertegur sapa, saling membalas luka, dan akhirnya sama-sama menerima bahwa nyatanya kita tidak ditakdirkan bersama sebagai pecinta.

Di tengah membaca puisi-puisi karya kita, aku kembali pada peristiwa kita zaman SMA, kita suka pergi ke taman berdua, melihat bintang di malam hari, duduk di tepi air mancur, mendengarkan musik yang berkumandang di sela tawa dan cerita kita. Di taman itu, kita saling berbagi mimpi, kita saling mengagumi. Kamu adalah orang yang membuatku sadar bahwa aku bisa dicintai sebagai apa adanya aku. 

Aku juga ingat beberapa kali kamu muncul di depan sekolahku, menjemputku pulang di hari Sabtu. "Aku mau les biola sama kakakmu." begitu alibimu, meski itu hanya alasan, aku tahu. 

Aku ingat kita pergi ke taman naik motor berdua, itu saja sudah romantis rasanya. Di tengah perjalanan kita bisa saling bicara, dan aku ingat kamu bilang padaku, "Mungkin kita memang tidak bisa bersama, aku mau bisa terus cerita sama kamu, mengeluh sama kamu, jadi, masa aku cerita sama kamu tentang kamu?" Dan aku setuju. Detik itu kita sama-sama tahu, semesta merajut kisah asmara yang berbeda bagi kita berdua.

Memoriku juga tiba pada saat kamu tiba-tiba meneleponku tengah malam, minta ditemani.  "Maaf aku telepon tengah malam." Begitu katamu, kamu tidak baik-baik saja karena kudengar resah dalam suaramu dan aku tahu kamu cuma perlu yakin bahwa aku ada. Demikian, kita berjam-jam terdiam, hingga sama-sama terlelap. 

Kemarin juga, namamu tiba-tiba muncul di layar telepon genggamku.

Kamu cerita panjang, aku hanya mendengarkan; intinya, kamu mengundang.

Kamu akhirnya menemukan pelabuhan hati terakhirmu, dan kamu siap menurunkan jangkar untuk kapalmu merapat. 

Mendengar undangan hari bahagiamu, aku terdiam. 

Aku ingat setahun lalu kamu ajak aku ke kafe berdua, setelah bertahun-tahun tidak pernah pergi bersama. Kamu cerita tentang dia, orang yang akhirnya membuatmu yakin manusia diciptakan berpasangan. Kamu ungkapkan kegelisahan hatimu tentang hidup berkeluarga. Aku ingat aku hanya diam mendengarkan, sesekali menepuk pundakmu atau memegang tanganmu untuk menenangkan. Aku ingat kamu tanya, "kamu nggak apa-apa kalau aku menikah duluan?" Aku ingat aku menggeleng, tersenyum, dan menatap matanya, "Seperti yang dulu-dulu, aku bahagia kalau kamu bahagia." Tapi setelah kurenungkan lagi, kata-kataku seperti dusta. 

Saat kamu kemarin mengundangku, tubuhku membeku, lidahku kelu. Harusnya aku sudah bisa tahu, akan datang hari itu. Mendengarmu bicara melalui telepon itu, aku tahu ini terakhir kalinya namamu muncul di layarku. Aku tidak bisa lagi bebas menghubungimu, tiba-tiba mencurahkan isi hatiku, marah-marah, atau sekedar bilang, "aku kangen kamu." 

Seketika aku sedih, aku merasa kehilangan kamu. Protes, "Terus bagaimana dengan aku?" 

Tapi kemudian aku sadar sesuatu, 

Mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersatu, kita itu seperti urutan kancing baju, kita saling menunggu, tapi tidak pernah bertemu. 

Pada akhirnya, satu hal yang kutahu, selalu ada sayang buatmu, dan selalu ada rasa sayang untukku. Dan karena itu, aku melakukan aksi cinta yang paling tinggi buatmu, mendoakanmu selalu bahagia, seperti yang dulu dulu. 


Sabtu, 29 Agustus 2020

Aku Bebas

Tadi aku ketemu kamu. 

Tapi ternyata, baru kusadari aku tidak serindu itu. 

Sendi tubuhku tidak tertarik bergerak menghampirimu. 

Bibirku tidak berusaha mengucapkan kata untuk menyapa. 

Raut wajahku pun tidak melembut, semakin dingin, menyerupai rautmu. 

Aku banyak menunduk, tidak ingin melihat wajahmu. 

Seperkian waktu tadi, sempat ada aliran listrik statis menyergapku ketika aku merasakan hadirmu. 

Aku masuk ke dalam diri lebih jauh, mengukur rasa yang kusisihkan untukmu. 

Semakin aku menyelam, ternyata rasaku padamu sudah semakin padam. 

Saat semua rasa kembali netral, aku melihatmu, benar-benar melihatmu, dan ku tahu rasamu untukku pun sudah hilang. 

Sakitkah aku? Ternyata tidak terlalu. 

Ternyata aku bisa tersenyum padamu, tetap memberi perhatian tanpa harus takut kembali punya rasa. 

Lalu kubisa rasakan pundakku melemas, aku tahu aku siap melepaskan beban berat yang selama ini aku pilih untuk dipikul, aku bebas.