Anehnya, tiap rintik hujan yang mengetuk jendela itu mengingatkan aku akan kamu
Manusia yang tampak sedingin salju tapi hatinya sehangat musim semi
Tiap aku lihat titik air hujan yang sejenak membekas di tanah, aku ingat masa itu
Pertama kali kita pergi berdua, juga banyak barisan hujan turun ke bumi
Kita berteduh menunggu hujan reda, lalu kembali berkendara melintasi Jakarta di malam tahun baru
Kalau dulu bersamamu itu aku senang saat hujan karena aku tetap hangat di dekapmu,
kali ini aku justru mengutuk diriku
Hujan mengingatkan seberapa besar aku menyalahkan diri,
karena aku membiarkanmu pergi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar