Kepada
langit malam yang kian meremang : tolong tetap sinari tidur malam orang-orang
yang saya kasihi, ya?
Tertanda, saya.
Kepada angin yang
berhembus pilu seakan lelah menjadi kurir perasaan : saya kangen abang. Saya
khawatir sama abang. Sehatkah ia? Dimana ia berada malam ini? Sudah makankah ia
malam ini? Lagu apa yang sedang digubahnya malam ini? Sholat tepat waktukah ia hari
ini? Begitu banyak pertanyaan, angin. Saya ingin berontak. Terlalu banyak kisah
yang ingin saya bagi, tapi sayangnya saya tidak bisa. Saya bisu bila menyangkut
perasaan saya ke abang. Saya harap kali ini angin sudi menghembuskan nafas
rindu ini, tepat di hati abang. Saya kangen abang.
Tertanda, saya.
Kepada bintang yang
berpijar di langit kelam : mata saya tidak bisa terpejam. Saya kangeeeenn
sekali sama abang. Saya ingin ketemu abang. Sudah terlelapkah ia saat ini? Saya
kepingin ukir nama abang di salah satu bintang. Bintang, tolong jaga abang
malam ini yaaa...
Tertanda, saya.
Surat demi surat. Surat yang dia sadari tidak akan
terjawab, kepada langit, angin, mentari, awan, bintang dan tak lupa pada bulan,
berisi kegundahan, harapan, bahkan rasa syukur tak terucap dan tidak bisa
dibagikan. Tetapi, ia tidak menyerah dan semua berujung pada doa bagi satu
orang yang sama, abang. Sosok yang baru dikenalnya seujung kuku, tapi mampu
menghantuinya selama berhari-hari, berbulan-bulan, ataupun bahkan bisa jadi
menjadi bertahun-tahun. Sosok yang membuatnya rela berhenti sejenak untuk rehat
di dada bidang abang, beristirahat dari pelarian bertahun-tahun dari kenyataan,
membuatnya mau mendarat barang sebentar dari misinya untuk terus terbang bebas
tanpa dikendalikan. Semua berubah, karena abang. Abang memberinya cara pandang
baru mengenai kebebasan. Titik sudut yang sama sekali berbeda dari definisi
bebas yang selama ini ia percaya, ia khidmati. Sosok yang pertama kali
menanyakan alasan mengapa ia lari selama ini, dan sosok yang sama yang juga
mempertanyakan apakah alasan itu valid, bisa dipahami dan dimengerti, ataukah
sebetulnya alasan itu hanyalah kedok untuk menutupi sebuah ketakutan besar akan
kemampuan alami manusia, jatuh cinta. Masalahnya, abang benar. Ia takut jatuh
cinta, dan sosok itu mengingatkannya pada kenyataan itu, dan mengungkapkan
mengapa ia takut jatuh cinta. Ia takut ditinggalkan. Ia takut disakiti.
Sesederhana itu. Alasan praktis yang membuatnya trauma bertahun-tahun,
membuatnya berhenti berharap akan adanya kasih sayang. Tetapi, baginya abang
berbeda. Bersama abang, semua terlihat begitu sederhana, tidak rumit. Jatuh
cinta terasa mudah, menyenangkan, karena abang selalu ada disana, siap
menangkap tubuhnya, tampak jelas bahwa sosoknya ada, dan terjangkau, dia bisa
menjamah dan menyentuhnya. Setelah berpuluh sosok datang dan pergi, ternyata
sosok abanglah yang bisa kembali membuatnya percaya dan kembali berharap adanya
cinta. Karena ada abang yang mendampingi.
Enam bulan. Perjalanan cukup singkat tapi bermakna dalam.
Selama enam bulan, yang dirasakan hanyalah rasa aman. Aman tidak akan disakiti,
ditinggal apalagi. Tetapi ternyata takdir berkata lain. Ia kembali patah hati.
Ironisnya, kini hatinya diremukkan oleh sosok yang sama yang dulu menemukan
hatinya dan membuatnya percaya. Abang. Ia kembali harus menerima kenyataan
adanya perbedaan selalu berpotensi menghancurkan. Alasan perbedaan. Salib dan
tasbih. Perbedaan keyakinan yang memang sudah dari awal disadari, bisa
menimbulkan perpecahan. Namun, kedua hati berjuang mengabaikan fakta itu dan
mencoba menjalani hari seperti biasa. Klise. Tapi begitu adanya. Abang
meninggalkannya. Meninggalkan ia dan hatinya yang terlanjur berlabuh dan
berjangkar terlalu lama. Ia kembali harus menerima bahwa dirinya tidak lebih
dari sekadar halte, tempat perhentian hati abang yang layaknya sebuah bis kota,
hanya berhenti beberapa menit sebelum akhirnya akan kembali mencari halte yang
lain. Padahal baginya, abang adalah pegangannya. Kini ia kehilangan arahnya.
Kembali ia berpura-pura. Tertawa seakan-akan bahagia, padahal menutupi
kenyataan ada lubang besar menganga di hatinya. Karena abang. Ia ingin kembali
terbang, tetapi seperti burung yang sayapnya patah, ia terluka. Ia ingin
kembali berlari, tetapi kehilangan tujuan. Jadilah ia kini diam mematung. Tidak
bergerak. Tidak kembali berjalan. Ia bingung. Kemana lagi ia harus
menggantungkan asa dan harapnya? Akhirnya ia memutuskan menulis doa kepada
Tuhan melalui perantara angin, langit, mentari, bintang, bulan, yang
diyakininya abang juga merasakan adanya keberadaan mereka.
Ada sedikit kelegaan padanya saat menuliskan
surat-suratnya. Pembebasan. Mungkin itu kata yang paling tepat dikatakan.
Jiwanya perlahan terbang lagi bersama angin, dan harapannya kembali dituntun
oleh bintang. Topengnya luruh meleleh oleh sinar mentari. Ia belajar apa
adanya. Jujur pada dirinya. Membiarkan dirinya berkelana sendiri, biarpun arah
dan tujuannya tidak pasti. Alih-alih terluka, ia mencoba bersyukur, pasrah dan
berdoa. Masih bisa dirasakannya belai abang di wajahnya, cium sayang abang di
bibirnya, dan kata-kata penuh cinta masih terdengar merdu di telinganya.
Cintanya pada abang, belum pudar dan masih tersisa. Tetapi kini ia merasakan
cinta dalam bentuk dimensi berbeda. Ia cinta dunianya. Karena abang.
Jakarta, 10 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar