Translate

Jumat, 26 April 2013

Abang

-->
Kepada langit malam yang kian meremang : tolong tetap sinari tidur malam orang-orang yang saya kasihi, ya?
            Tertanda, saya.
            Kepada angin yang berhembus pilu seakan lelah menjadi kurir perasaan : saya kangen abang. Saya khawatir sama abang. Sehatkah ia? Dimana ia berada malam ini? Sudah makankah ia malam ini? Lagu apa yang sedang digubahnya malam ini? Sholat tepat waktukah ia hari ini? Begitu banyak pertanyaan, angin. Saya ingin berontak. Terlalu banyak kisah yang ingin saya bagi, tapi sayangnya saya tidak bisa. Saya bisu bila menyangkut perasaan saya ke abang. Saya harap kali ini angin sudi menghembuskan nafas rindu ini, tepat di hati abang. Saya kangen abang.
            Tertanda, saya.
            Kepada bintang yang berpijar di langit kelam : mata saya tidak bisa terpejam. Saya kangeeeenn sekali sama abang. Saya ingin ketemu abang. Sudah terlelapkah ia saat ini? Saya kepingin ukir nama abang di salah satu bintang. Bintang, tolong jaga abang malam ini yaaa...
            Tertanda, saya.
           
            Surat demi surat. Surat yang dia sadari tidak akan terjawab, kepada langit, angin, mentari, awan, bintang dan tak lupa pada bulan, berisi kegundahan, harapan, bahkan rasa syukur tak terucap dan tidak bisa dibagikan. Tetapi, ia tidak menyerah dan semua berujung pada doa bagi satu orang yang sama, abang. Sosok yang baru dikenalnya seujung kuku, tapi mampu menghantuinya selama berhari-hari, berbulan-bulan, ataupun bahkan bisa jadi menjadi bertahun-tahun. Sosok yang membuatnya rela berhenti sejenak untuk rehat di dada bidang abang, beristirahat dari pelarian bertahun-tahun dari kenyataan, membuatnya mau mendarat barang sebentar dari misinya untuk terus terbang bebas tanpa dikendalikan. Semua berubah, karena abang. Abang memberinya cara pandang baru mengenai kebebasan. Titik sudut yang sama sekali berbeda dari definisi bebas yang selama ini ia percaya, ia khidmati. Sosok yang pertama kali menanyakan alasan mengapa ia lari selama ini, dan sosok yang sama yang juga mempertanyakan apakah alasan itu valid, bisa dipahami dan dimengerti, ataukah sebetulnya alasan itu hanyalah kedok untuk menutupi sebuah ketakutan besar akan kemampuan alami manusia, jatuh cinta. Masalahnya, abang benar. Ia takut jatuh cinta, dan sosok itu mengingatkannya pada kenyataan itu, dan mengungkapkan mengapa ia takut jatuh cinta. Ia takut ditinggalkan. Ia takut disakiti. Sesederhana itu. Alasan praktis yang membuatnya trauma bertahun-tahun, membuatnya berhenti berharap akan adanya kasih sayang. Tetapi, baginya abang berbeda. Bersama abang, semua terlihat begitu sederhana, tidak rumit. Jatuh cinta terasa mudah, menyenangkan, karena abang selalu ada disana, siap menangkap tubuhnya, tampak jelas bahwa sosoknya ada, dan terjangkau, dia bisa menjamah dan menyentuhnya. Setelah berpuluh sosok datang dan pergi, ternyata sosok abanglah yang bisa kembali membuatnya percaya dan kembali berharap adanya cinta. Karena ada abang yang mendampingi.
            Enam bulan. Perjalanan cukup singkat tapi bermakna dalam. Selama enam bulan, yang dirasakan hanyalah rasa aman. Aman tidak akan disakiti, ditinggal apalagi. Tetapi ternyata takdir berkata lain. Ia kembali patah hati. Ironisnya, kini hatinya diremukkan oleh sosok yang sama yang dulu menemukan hatinya dan membuatnya percaya. Abang. Ia kembali harus menerima kenyataan adanya perbedaan selalu berpotensi menghancurkan. Alasan perbedaan. Salib dan tasbih. Perbedaan keyakinan yang memang sudah dari awal disadari, bisa menimbulkan perpecahan. Namun, kedua hati berjuang mengabaikan fakta itu dan mencoba menjalani hari seperti biasa. Klise. Tapi begitu adanya. Abang meninggalkannya. Meninggalkan ia dan hatinya yang terlanjur berlabuh dan berjangkar terlalu lama. Ia kembali harus menerima bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar halte, tempat perhentian hati abang yang layaknya sebuah bis kota, hanya berhenti beberapa menit sebelum akhirnya akan kembali mencari halte yang lain. Padahal baginya, abang adalah pegangannya. Kini ia kehilangan arahnya. Kembali ia berpura-pura. Tertawa seakan-akan bahagia, padahal menutupi kenyataan ada lubang besar menganga di hatinya. Karena abang. Ia ingin kembali terbang, tetapi seperti burung yang sayapnya patah, ia terluka. Ia ingin kembali berlari, tetapi kehilangan tujuan. Jadilah ia kini diam mematung. Tidak bergerak. Tidak kembali berjalan. Ia bingung. Kemana lagi ia harus menggantungkan asa dan harapnya? Akhirnya ia memutuskan menulis doa kepada Tuhan melalui perantara angin, langit, mentari, bintang, bulan, yang diyakininya abang juga merasakan adanya keberadaan mereka.
            Ada sedikit kelegaan padanya saat menuliskan surat-suratnya. Pembebasan. Mungkin itu kata yang paling tepat dikatakan. Jiwanya perlahan terbang lagi bersama angin, dan harapannya kembali dituntun oleh bintang. Topengnya luruh meleleh oleh sinar mentari. Ia belajar apa adanya. Jujur pada dirinya. Membiarkan dirinya berkelana sendiri, biarpun arah dan tujuannya tidak pasti. Alih-alih terluka, ia mencoba bersyukur, pasrah dan berdoa. Masih bisa dirasakannya belai abang di wajahnya, cium sayang abang di bibirnya, dan kata-kata penuh cinta masih terdengar merdu di telinganya. Cintanya pada abang, belum pudar dan masih tersisa. Tetapi kini ia merasakan cinta dalam bentuk dimensi berbeda. Ia cinta dunianya. Karena abang.

                                                                                                         Jakarta, 10 Januari 2013
                                                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar