Bahagia itu sederhana.
Mereka adalah manusia biasa. Sekelompok remaja yang baru saja selesai ujian negara. Sekelompok remaja yang baru menuntaskan kewajiban belajar 12 tahun, dan kini berkumpul bersama berbagi cerita. Sekelompok remaja yang tumbuh bersama. Sekelompok remaja biasa yang entah bagaimana caranya, menemukan sendiri apa itu bahagia. Dari sisi perspektif masing-masing pribadi. Ya, mereka menemukan bahwa menjadi bahagia sangatlah sederhana.
"Bahagia itu sederhana," kata Gadis. "Sederhana?" Ayu cekikikan. "Iya, sederhana. Banyak hal sepele di dunia ini yang bisa dengan mudah membuat kita bahagia, " tukas Gadis mengeraskan wajahnya, memberi tanda ada keseriusan pada nada suaranya. "Sesederhana apa maksudmu?" Bagus bertanya. "Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari kekasihmu, Bagus," Raden mengangguk-angguk seraya berkacak pinggang. Bagus menyeringai, "Itu kan kamu! Bagiku, sesederhana bangun terlambat di pagi hari!" "Astaga Bagus...rendah sekali level bahagiamu ya.." Putri tertawa. "Itukan menurutku! Memang sesederhana apa bahagiamu, hah?" Bagus menantang Putri. "Aku? Bahagia itu sederhana. Sesederhana seandainnya aku bisa menonton konser Korea di Singapura bulan depan," Putri menerawang. "Hahahahaha...astaga Putri..mahal sekali bahagiamu!" Ayu kembali cekikikan. "Ih..biar saja! Nonton di televisipun aku rela! Asal bisa melihat Siwon beraksi..." Putri menerawang lagi. Ayu tak berhenti cekikikan hingga memukul mukul tepian sofa. "Memang hal sederhana apa yang membuatmu bahagia, Yu?" Raden bertanya. "Aku? Kalau aku...bahagiaku itu, saat bisa makan indomie goreng rasa ayam bawang pakai telur setengah matang buatan Ibuku! Hmm...enakkkk" Ayu yang memang gemuk itu menepuk perutnya. "Ah, dasar Ayu. Makaaaann terus di kepalanya," Gadis ikut menepuk perut Ayu. "Ahh.. Gadisss.. jangan pegang bagian tubuhkuuuu. Awas kamu yaaa," Ayu cemberut, membuat Gadis makin bernafsu meremas lengan Ayu yang empuk itu. Membuat teman-temannya yang lain turut tertawa. "Gadis, memang seperti apa bahagiamu?" Raden bertanya di sela tawanya. "Kalau aku... bahagia itu sesederhana melirik ujung mata Abang setelah berbulan-bulan tidak bertemu..." Gadis menunduk, menarik nafas panjang. Semua menepuk pundak Gadis. "Sudahlah Gadis, kamu akan bertemu laki-laki lain yang lebih baik dari Abang," Raden merangkul Gadis. Gadis mengangguk. "Bahagiaku juga sederhana!" Putra menyahut, "Bahagia menurutku, sesederhana boleh pergi ke Batu Cinta, naik perahu, lalu aku bisa mengukir nama Jelita di tiap batunya!" ujarnya bangga. "Aw..kamu romantis sekali sih Put. Aku juga mau dong diukir namanya," senggol Bagus sambil mengedip jenaka. Suara tawa kembali pecah. Kemudian mereka tersadar. "Dara, kamu kok diam saja sih daritadi. Senyum senyum sendiri begitu. Coba dong kamu bilang, sesederhana apa bahagia buat kamu?" Putri merangkul Dara. "Aku? Bahagia menurutku?" "Iya Dara. Kamu diam saja daritadi. Tinggal kamu nih yang belum komentar. Seperti apa bahagiamu?" Raden mengulang pertanyaan Putri. "Aku? Hmm..." Dara mulai berpikir, lalu ia menutup matanya seakan membayangkan sesuatu sambil berujar, "Bahagia itu sederhana. Sesederhana bisa berkumpul bersama sahabat-sahabat malam ini, sesederhana boleh mendengar cerita kalian malam ini, sesederhana melihat tawa dan raut bahagia dari wajah kalian saat ini, aku ada di antara manusia-manusia yang menyayangiku, bahagia itu...sederhana," Dara tersenyum, membuka matanya, dan dilihatnya teman-temannya berkaca-kaca. Dara beringsut maju. Ia merentangkan tangannya. Mereka berpelukan. Mereka bahagia.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bangun terlambat di pagi hari.
Sesederhana menyantap indomie goreng rasa ayam bawang dengan telur setengah matang di malam hari.
Sesederhana mampu menonton konser Korea, meski hanya bisa dari televisi.
Sesederhana mendapat sms ucapan selamat pagi dari sang kekasih pujaan hati.
Sesederhana bisa melihat mata orang yang dikasihi, meski hanya sedetik, tetapi melekat di hati.
Sesederhana naik perahu ke Batu Cinta dan mengukir nama di tiap batu yang ditemui.
Sederhana.
Sesederhana ada di antara orang-orang yang dicintai, dipeluk, merasa dilindungi.
Ya, menjadi bahagia itu, sederhana.
Jakarta, 30 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar