Translate

Senin, 25 Juni 2012

Patah

Hati. Cuma Tuhan, dan orang itu yang tau bagaimana perasaannya hari itu, saat itu, dan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan kadang-kadang, orang itu sendiri nggak sadar sama perasaannya saat itu. Patah hati. Gw ga ngerti arti dan maknanya sampai tanggal 20 Juni 2012, gw paham maksudnya. Yah, mungkin maknanya nggak sama buat semua orang, tapi gw mengartikan patah hati itu seperti kaki ga kuat nopang badan, lidah rasanya nggak bisa ngomong, dan semua syaraf mata nggak bisa mengontrol yang namanya kelenjar air mata buat terus mensekresikan air matanya. Selain itu, berasanya semua sendi tubuh itu nggak bisa digerakkan, yang ada cuma nangis, nangis, dan nangis. Gw bener-bener saat itu berasa jadi pengecut. Nggak bisa bilang apapun yang kepengen gw katakan, nggak bisa melakukan apapun yang ingin gw lakukan. Saat itu, yang ada di pikiran gw cuma "Lo putus men. Sudah. It's over. It's your fault" sedangkan jiwa gw kepengen si 'dia' ada saat itu, dan meluk gw sambil bilang semua akan baik-baik saja. Tapi masalahnya permintaan jiwa gw gabisa diturutin. Di saat yang sama, gwjuga merasa seperti burung yang sayapnya patah. Nggak seimbang, nggak bisa terbang. Gw inget, kenapa sebelumnya, gw nggak pernah mau pacaran, dan selalu lari kalau lagi di deketin sama cowok. Gw masih mau terbang. Masih mau hinggap dimanapun gw suka, berlama-lama dimanapun gw mau, tanpa harus ada yang mengikat kaki gw di satu tempat. Tapi masalahnya, kadang burung juga suka lalai tidak mengecek keadaan pohon yang sedang dihinggapinya, bukan? Gw sih nggak mau menyalahkan siapapun. Waktu pdkt sama pacaran emang luar biasa so sweetnya. He was the best thing I've ever had deh. Dan gw rasa, karena perasaan itulah, gw merasa ketika putus, rasanya seperti diangkat angkat, disanjung, lalu dibanting. Sakit. Seperti burung yang kalau saat belajar terbang ataupun sedang hinggap namun dikenai sedikit senggolan ataupun sengaja dijatuhkan, sayap burung bisa patah. Sama kayak gw. Kembali, gw nggak percaya sama yang namanya cinta. Asli semalaman nggak bisa tidur, padahal besoknya gw berangkat camping. Luar biasa. Semalaman cuma mikirin kata-kata terakhir dari si 'doi', kesalahan-kesalahan gw sama 'doi', sentuhannya, semua kata-kata dan gombalannya yang bikin gw jatuh cinta, tetapi anehnya, gw ga mikirin sekalipun kata-kata yang udah nggak berjiwa lagi yang keluar dari mulutnya waktu mutusin gw. Yah, burung jatuhpun tidak akan mengingat-ingat siapa yang menjatuhkan atau ranting mana yang menyenggolnya dari pohon itu.  Yang dilakukan burung hanyalah berusaha bangkit. Namun sayangnya gw nggak setegar burung. Gw nggak langsung bangkit. Gw sempat tenggelam dalam kesedihan, rasa kecewa akan diri gw sendiri. Tetapi kemudian sama seperti burung bersayap patah yang beruntung, ada orang yang mau menemukan dia dan merawat sayapnya sampai sembuh, gw juga beruntung. Gw dikelilingi orang-orang yang nggak kalah sayangnya sama gw. Orang-orang yang bersedia tetap duduk setia mendengarkan keluhan gw, tetap bertahan ketika gw nangis nggak jelas malam-malam, dan mau benar-benar membukakan mata gw kalau dunia itu luas dan terlalu indah untuk dihabiskan dengan tangisan. Mereka yang mendorong gw untuk tidak menangis malam-malam waktu camping, dan tetap di luar, memandang langit penuh bintang, yang makin menunjukkan betapa mereka kepingin gw bahagia.  Ya, gw ada di tengah teman-teman gw yang sayangnya setengah mati sama gw. Mereka nggak akan meninggalkan gw, sekalipun gw pergi jauh, gw tahu gw bakal kembali, dan mereka akan ada disana. Yeah, I'm lucky. Dear Love, you might killed my soul, but my friends, they're always make me keep alive. :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar