Translate

Jumat, 20 Juni 2014

Cabut Gigi

Hari Senin dan Rabu yang lalu, dua gigi geraham bungsu saya bagian kanan dicabut. Pencabutan ini merupakan operasi kecil, karena ini bukan cabut gigi biasa. Gigi geraham bungsu saya tidak bisa tumbuh. Keempat-empatnya tidak bisa tumbuh. Ruang dalam mulut saya hanya cukup untuk 28 gigi, bukan 32 gigi. Sehingga, sisa 4 gigi geraham bungsu tidak dapat tumbuh. Posisi keempat gigi tersebut miring di dalam gusi, dan menekan gigi sebelahnya, kemungkinan mengenai syarafnya, yang kemudian membuat saya mengalami migrain dan harus minum pain killer setiap hari selama sebulan penuh. Oleh karena itu, setelah berkonsultasi ke dokter gigi, diputuskan bahwa saya harus menjalani operasi gigi tersebut.
Proses pencabutan gigi tersebut berlangsung masing-masing setengah jam untuk setiap gigi. Sebenarnya, rencana awal pencabutan gigi langsung dilakukan untuk 2 gigi sekaligus, atas dan bawah. Akan tetapi, karena saya juga sedang batuk, maka itu menyulitkan dokter untuk melakukan pencabutan. Oleh karena itu, dokter mengusulkan untuk menunda pencabutan gigi bagian atas hingga batuk saya membaik. Jika saya sudah merasa lebih baik di hari Rabu, maka saya dipersilakan kembali dan dilakukan pencabutan gigi.
Sesudah pencabutan gigi hari pertama, seperti yang sudah diberitahu oleh dokter, bahwa pipi saya akan bengkak dan akan cukup sakit selama beberapa hari. Dan, yaaa... pipi saya memang membengkak. Saya sempat sulit untuk makan dan membuka mulut di hari pertama, terutama jam-jam pertama sesudah operasi. Saya hanya makan bubur. Akan tetapi, malamnya saya merasa cukup kuat untuk makan martabak manis yang yahhh..memang sulit untuk bertahan dari godaannya.
Kemudian, datanglah hari Rabu. Saya merasa batuk saya sudah membaik. Saya kembali lagi ke rumah sakit, dan menjalani operasi pencabutan gigi geraham bungsu bagian bawah. Saat proses pengambilan gigi, prosesnya tampaknya lebih sebentar daripada saat gigi bagian bawah saya diambil. Menurut dokter, ini wajar karena gigi bagian bawah biasanya harus dipecah dulu baru bisa diambil. Sedangkan gigi atas akan lebih mudah mengambilnya karena tulangnya lebih empuk. Namun, dokter itu bilang bahwa operasi hari itu sesungguhnya cukup sulit. Rongga mulut saya sempit. Mungkin juga disebabkan karena bengkak yang diakibatkan operasi hari pertama belum membaik.
Sesudah operasi itu selesai, wowwwwww rasanya sakit sekali. Apalagi setelah efek dari anestesi habis. Saya sempat menangis. Saya bisa merasakan ini lebih sakit daripada operasi pertama. Saya betul-betul tidak bisa makan hari itu. Mulut saya tidak mampu terbuka selebar sendok teh sekalipun. Jadi, saya hanya mampu minum susu, itupun menggunakan sedotan. Hal ini terjadi hingga keesokan harinya. Bahkan, bengkaknya jadi sangat besar. Ibu saya sampai takut melihatnya. Begini katanya ,"duh.. itu kok kayak balon. Udah mau meletus kayaknya." hehehehe..
Hari inipun, bengkaknya masih terlihat jelas. Saya pun belum mampu mengunyah makanan yang keras. Bahkan makan tempe saja harus perlahan. Kalau kata tante saya begini, "kamu menggemaskan." Apalagi, waktu ia lihat saya menggigit makanan. Katanya, saya seperti anak SD. Yah... saya hanya bisa senyum-senyum.
Pencabutan gigi tersebut membuat saya mengambil banyak hikmah. Betapa sesuatu yang sepertinya kecil dan sepele, gigi, mampu mempengaruhi kesehatan saya keseluruhan. Bayangkan, saya harus makan obat penahan rasa sakit, dua kali sehari, setiap hari, selama sebulan, karena saya mengalami migrain. Migrain yang ternyata disebabkan oleh gigi geraham bungsu yang tidak dapat tumbuh. Kalau diibaratkan dengan kehidupan, ini mau menunjukkan bahwa sesuatu yang kecil bukan berarti tidak punya peran besar dalam perubahan.

Ini hasil panorama gigi

Ini gigi geraham bungsu atas bagian kanan, salah satu gara-gara saya migrain setiap hari
Ini aku,liat pipinya. Ini hari ke-2 sesudah operasi kedua hehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar