Translate

Selasa, 07 Januari 2014

Selesai

Aku membuka kembali pesan-pesan lama darimu malam ini. Bodohnya aku.
Membiarkan diriku merasakan sakit, tiap aku membaca pesan demi pesan berisi nafas cinta pada tiap katanya. Ini bukan sakit biasa. Sakit karena membiarkan luka lama terbuka, anehnya selalu mampu membuatku tidur lebih lelap dari malam-malam lainnya. Meskipun sakit itu harus membuatku merasa sesak untuk beberapa saat.
Aku membiarkan mataku membaca kata demi kata yang tercetak, lalu membiarkan hatiku meresapi maknanya dalam-dalam. Inilah yang kusukai dari pesan tertulis, tiap kata yang tertulis di atasnya tidak pernah berubah makna.
Aku membaca, sangat perlahan. Bahkan kecepatanku membaca dapat dikalahkan oleh kura-kura yang berjalan cepat. Berusaha mengingat tiap detik momen yang tersimpan di balik tiap kata yang tertulis di sana. Aku kesakitan.
Entah mau sampai kapan kebiasaan ini berlanjut. Nyatanya, rasa sayang ini tidak pernah surut. Meskipun waktu sudah berjalan lebih dari 2 tahun.
Kemudian mataku tiba di suatu sudut. Sudut yang menampilkan pesan terakhirmu saat itu. Saat kita berpisah, saling menemukan jalan sendiri-sendiri. Lalu muncul kristal air dari ujung mataku. Aku menangis, aku kesakitan...
Lalu aku sadar, aku harus berhenti. Kadang rasa sayang harus diimbangi dengan memikirkan diri sendiri. Hatiku boleh dingin sejak kau membekukannya, akan tetapi aku yakin akan segera meleleh oleh mentari yang dibawakan seseorang untukku, tahun ini. Kemudian aku tersenyum. Kututup pesan-pesan lama darimu, malam ini. Aku mendekap tiap pesan yang ada, dekat di hati, lalu aku berdiri, meletakkan semua pesan itu jauh di sudut yang tak dapat kujangkau lagi. Lalu aku pergi, dan tak menoleh lagi.


Jakarta, 8 Januari 2014
1 : 23 AM
Aku merindukan hadirmu, tapi aku tahu, aku harus pergi
(Panda & Domba)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar