Saat ini, menjelang pagi ke-empat pada bulan Januari 2014. Tanpa
terasa, langkah kaki berjalan menjauhi tahun 2013. Saya rasa, belum
terlambat untuk membuat mengenang sedikit berbagai hal luar biasa yang
terjadi sepanjang tahun 2013, sebagai refleksi dan acuan untuk membuat
perubahan menuju arah yang lebih baik di tahun 2014.
Tahun 2013
merupakan tahun yang luar biasa. Tahun yang mengajarkan saya bahwa hidup
tidak selalu mulus dan berjalan sesuai rencana kita. Meskipun demikian,
bukan berarti hasilnya lebih buruk dari rencana kita, akan tetapi bisa
jadi lebih indah dari yang kita harapkan. Berbagai kesempatanpun juga
hadir di tahun yang penuh berkat itu. Siapa sangka, saya ternyata pernah
merasakan menjadi sutradara? Siapa sangka saya bisa menjadi salah satu
bagian dari make up artist di pementasan teater kampus? Siapa sangka
saya terpilih menjadi ketua Quo Vadis 2014? Siapa yang menyangka, bahwa
saya akhirnya menjalani mimpi saya untuk menjadi mahasiswi fakultas
Psikologi Universitas Indonesia? Karena semua kesempatan itulah, saya
menganggap tahun 2013 merupakan tahun yang penuh berkat.
Tahun
2013 juga seakan berjalan terlalu cepat. Rasanya, baru kemarin saya
berada di rumah salah satu kawan SD, untuk merayakan pergantian tahun
bersama kawan-kawan yang lain. Masih bisa saya bayangkan berada di
lantai atas bersama kawan-kawan, menonton kembang api yang menyala
bergantian. Dilanjutkan dengan bulan-bulan berikutnya, saya sibuk
belajar untuk menyiapkan diri menjelang ujian akhir saya di SMA. Lalu
waktu berjalan cepat, dan sampailah saya pada masa ujian itu. Saya ingat
betul, banyak hal menarik yang terjadi pada saat itu. Saya ingat
kata-kata seorang guru SMA saya, bahwa saat melakukan percobaan biologi
dengan menggunakan makhluk hidup, sebaiknya diajak bicara, agar objek
percobaan kita juga dapat bekerjasama dengan baik, kemudian hasilnya
sesuai dengan yang diharapkan. Nah, ketika ujian praktik biologi, saya
mendapat topik pengaruh enzim, yang menggunakan hati ayam sebagai bahan
percobaan. Ketika sedang menggerus hati ayam, hati ayam ini terasa
sangat keras dan sulit sekali untuk dihaluskan. Maka, mengingat
kata-kata guru saya itu, saya ajak hati ayam ini bicara. Saya katakan,
"Ayo dong, halus. Bantuin gue buat lulus.." Kata-kata itu diulang terus.
Kemudian, entah karena sugesti atau memang sudah saatnya hati ayam ini
halus, atau karena keajaiban, hati ayam ini menjadi mudah dihaluskan.
Sejak saat itu, saya mengajak bicara semua objek percobaan saya, untuk
semua mata pelajaran.
Kemudian waktu bergulir cepat, dan tiba-tiba
saya sedang berada di Bandung. Bersama sahabat-sahabat saya semasa SMP
dan SMA. Kami pergi ber-7, kurang 2 lagi kawan yang seharusnya pergi
bersama kami. Kami pergi selama 3 hari dan 2 malam. Perjalanan yang
singkat, akan tetapi bagi saya sangat membekas. Saya banyak belajar
selama 3 hari dan 2 malam itu. Saya belajar bahwa menjadi bahagia
sangatlah sederhana. Bahwa hanya dengan berada di antara orang-orang
yang mencintai saya, yang mau menerima saya apa adanya, tanpa harus
melakukan sesuatu yang spesial-pun, saya bisa bahagia. Itulah yang saya
pelajari, penerimaan. Bahkan di antara kami bertujuh pun, masih ada yang
saling tidak suka, akan tetapi masih berusaha menerima kehadiran orang
itu di sampingnya. Betapa perbedaan yang ada justru mampu membuat kami
makin kuat dan menyayangi satu sama lain.
Tak lama kemudian, saya
berada di aula SMA St. Theresia sebagai siswi SMA untuk yang terakhir
kalinya. Ya, saya berada di acara prom night SMA. Malam yang
menakjubkan. Banyak hal terjadi malam itu. Bahkan saya masih ingat
rasanya menari waltz berpasangan dengan teman saya, bersama teman-teman
yang lain. Berbagai kejadian duka dan suka, semua terjadi malam itu.
Lalu,
tiba saatnya saya mencari tempat baru untuk menuntut ilmu di jenjang
yang lebih tinggi. Dari dulu, saya selalu ingin menjadi bagian dari
Universitas Indonesia, meskipun saya tahu bahwa mimpi itu sulit digapai.
Sekali lagi, tahun 2013 merupakan tahun yang penuh berkat. Saya lulus
tes dan tak lama kemudian, saya resmi menyandang status mahasiswi
fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2013.
Sejak saya
menjadi mahasiswi, banyak hal dalam diri saya yang berubah. Saya
menjadi lebih pendiam, lebih tertutup. Saya merasa ada bagian dari diri
saya yang hilang. Saya lebih mudah kesepian. Entah itu karena saya mulai
tinggal di kost, atau karena efek sedang menyesuaikan diri dengan
lingkungan baru. Akan tetapi, saya sadar bahwa saya menjadi lebih
sensitif. Emosi saya justru lebih cepat memuncak. Saya tidak suka jika
emosi itu mulai muncul. Apalagi, banyak hal baru yang tidak saya
persiapkan sebelumnya akan terjadi. Saya mengalami sendiri adanya
kendala dari perbedaan SARA dalam pergaulan, mengalami sendiri bahwa ada
hal-hal yang tidak bisa saya putuskan dengan mudah, karena efeknya akan
berbuntut panjang. Kadang, saya merasa tidak bahagia dengan
pilihan-pilihan yang saya ambil saat saya sudah menjadi mahasiswi, namun
terpaksa saya jalani karena topeng yang dinamakan komitmen. Kadang,
saya ingin mengatakan, persetan dengan komitmen, saya ingin lari, saya
ingin bebas. Ada beberapa kegiatan yang sama sekali tidak membuat saya
bahagia. Kegiataan yang seharusnya menjadi penyaluran emosi, menjadi
tempat saya untuk bersenang-senang, justru membuat saya merasa sesak
napas, saya merasa dipenjara. Kegiatannya tidak salah, hanya saja saya
kemudian sadar bahwa pilihan kegiatan itu tidak cocok dengan saya. Itu
bukan kegiatan yang sesuai dengan minat saya. Akan tetapi, demi
memuaskan pihak-pihak tertentu, saya mencoba bertahan.
Waktu cepat
berlalu, dan saya tiba di bulan Desember. Bulan yang cukup berat untuk
saya dan keluarga besar. Eyang saya sakit cukup kritis, membuat kami
sekeluarga sedih dan tidak bisa merayakan perayaan Natal dan liburan
dengan sepenuh hati, karena pikiran dan hati kami sedang berfokus pada
kesembuhan eyang, dan masih terus berharap adanya keajaiban dan mukjizat
dari Tuhan, hingga hari ini.
Tahun 2013 memang penuh dengan momen
suka dan duka. Tentu, seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak cinta
datang dan pergi. Ada beberapa wajah baru yang hadir cukup lama dan
datang bergantian di hati saya, menjadi warna tersendiri di perjalanan
hidup saya sepanjang tahun 2013. Mereka merupakan sosok-sosok perhatian
yang membuat saya sadar betapa saya sangat dicintai dan saya tidak
sendirian. Akan tetapi, sayangnya saya tidak mampu membuat beberapa dari
mereka merasa dicintai balik oleh saya, dan akhirnya mereka terluka.
Seandainya saya cukup berani menatap wajah mereka satu per satu, saya
ingin katakan bahwa saya minta maaf dan berterimakasih atas hadirnya
mereka yang saya percayai memang sudah waktunya. Toh pada akhirnya, saya
tidak akan pernah mampu membuat semua orang senang dengan apa yang saya
lakukan. Tidak hanya cinta yang saya rasakan sendiri. Di akhir tahun
2013 pun, saya melihat bentuk cinta yang sesungguhnya dari orang
terdekat saya. Dari eyang saya dari Ibu. Sepasang orang tua, yang hidup
bersama dengan kondisi tubuh yang kian melemah. Saya melihat bentuk
cinta yang sesungguhnya dalam bentuk pelayanan. Saya melihat bagaimana
eyang Putri saya begitu sabar menghadapi Eyang Kakung yang mulai sulit
mendengar, mulai sakit-sakitan, dan mulai tergantung dengan orang lain.
Padahal, Eyang Putri juga beranjak tua. Akan tetapi, ia berusaha tegar
dan sehat demi dapat mengurus Eyang Kakung. Saya melihat bentuk nyata
dari kesetiaan dan cinta mendalam, yang kemudian menjadi inspirasi saya.
Selain
tentang cinta, saya juga merasakan bahwa persahabatan mahal sekali
harganya. Benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa makin kita dewasa,
maka pertemanan akan berbentuk seperti piramida. Makin lama semakin
sedikit. Itulah yang saya alami. Makin hari, saya makin tahu siapa yang
betul-betul merupakan sahabat saya. Yang selalu hadir dan ada pada waktu
yang tepat. Yang mampu membuat pelangi sesudah hujan turun dari mata
saya, yang selalu mampu membuat saya bahagia meskipun dengan cara-cara
yang paling sederhana. Yang tidak menuntut saya macam-macam hal yang
tidak mampu saya penuhi hanya untuk syarat menjadi teman mereka. Untuk
itu, saya sangat bersyukur karena adanya mereka yang selalu mau berdoa
untuk saya. Akan tetapi, bagi saya, sesungguhnya orang-orang yang paling
membantu saya menjalani semua masa sulit dan bahagia di tahun 2013
yaitu keluarga saya. Manusia-manusia yang tidak pernah mengeluh dengan
berbagai kondisi saya yang bisa tiba-tiba berubah mood dengan drastis,
yang menyayangi saya tanpa adanya syarat dan batas. Pada akhirnya, saya
berterimakasih pada Tuhan karena Ia lah yang memberikan saya semua
kawan, semua cinta, keluarga, serta berkat melimpah yang boleh saya
nikmati sepanjang tahun 2013.
Baiklah, itulah sedikit hal yang
saya bagi mengenai perjalanan saya di tahun 2013. Saya masih berharap
adanya perubahan baik dalam diri saya di tahun 2014. Akhir kata, untuk
semua hal baik ataupun buruk yang terjadi di tahun 2013 dan semua orang
yang terlibat di dalamnya, saya cuma ingin bilang, terimakasih. :)
-4 Januari 2013, dinihari-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar