Translate

Selasa, 07 Januari 2014

Goodbye 2013 :)

Saat ini, menjelang pagi ke-empat pada bulan Januari 2014. Tanpa terasa, langkah kaki berjalan menjauhi tahun 2013. Saya rasa, belum terlambat untuk membuat mengenang sedikit berbagai hal luar biasa yang terjadi sepanjang tahun 2013, sebagai refleksi dan acuan untuk membuat perubahan menuju arah yang lebih baik di tahun 2014.
Tahun 2013 merupakan tahun yang luar biasa. Tahun yang mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu mulus dan berjalan sesuai rencana kita. Meskipun demikian, bukan berarti hasilnya lebih buruk dari rencana kita, akan tetapi bisa jadi lebih indah dari yang kita harapkan. Berbagai kesempatanpun juga hadir di tahun yang penuh berkat itu. Siapa sangka, saya ternyata pernah merasakan menjadi sutradara? Siapa sangka saya bisa menjadi salah satu bagian dari make up artist di pementasan teater kampus? Siapa sangka saya terpilih menjadi ketua Quo Vadis 2014? Siapa yang menyangka, bahwa saya akhirnya menjalani mimpi saya untuk menjadi mahasiswi fakultas Psikologi Universitas Indonesia? Karena semua kesempatan itulah, saya menganggap tahun 2013 merupakan tahun yang penuh berkat.
Tahun 2013 juga seakan berjalan terlalu cepat. Rasanya, baru kemarin saya berada di rumah salah satu kawan SD, untuk merayakan pergantian tahun bersama kawan-kawan yang lain. Masih bisa saya bayangkan berada di lantai atas bersama kawan-kawan, menonton kembang api yang menyala bergantian. Dilanjutkan dengan bulan-bulan berikutnya, saya sibuk belajar untuk menyiapkan diri menjelang ujian akhir saya di SMA. Lalu waktu berjalan cepat, dan sampailah saya pada masa ujian itu. Saya ingat betul, banyak hal menarik yang terjadi pada saat itu. Saya ingat kata-kata seorang guru SMA saya, bahwa saat melakukan percobaan biologi dengan menggunakan makhluk hidup, sebaiknya diajak bicara, agar objek percobaan kita juga dapat bekerjasama dengan baik, kemudian hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Nah, ketika ujian praktik biologi, saya mendapat topik pengaruh enzim, yang menggunakan hati ayam sebagai bahan percobaan. Ketika sedang menggerus hati ayam, hati ayam ini terasa sangat keras dan sulit sekali untuk dihaluskan. Maka, mengingat kata-kata guru saya itu, saya ajak hati ayam ini bicara. Saya katakan, "Ayo dong, halus. Bantuin gue buat lulus.." Kata-kata itu diulang terus. Kemudian, entah karena sugesti atau memang sudah saatnya hati ayam ini halus, atau karena keajaiban, hati ayam ini menjadi mudah dihaluskan. Sejak saat itu, saya mengajak bicara semua objek percobaan saya, untuk semua mata pelajaran.
Kemudian waktu bergulir cepat, dan tiba-tiba saya sedang berada di Bandung. Bersama sahabat-sahabat saya semasa SMP dan SMA. Kami pergi ber-7, kurang 2 lagi kawan yang seharusnya pergi bersama kami. Kami pergi selama 3 hari dan 2 malam.  Perjalanan yang singkat, akan tetapi bagi saya sangat membekas. Saya banyak belajar selama 3 hari dan 2 malam itu. Saya belajar bahwa menjadi bahagia sangatlah sederhana. Bahwa hanya dengan berada di antara orang-orang yang mencintai saya, yang mau menerima saya apa adanya, tanpa harus melakukan sesuatu yang spesial-pun, saya bisa bahagia. Itulah yang saya pelajari, penerimaan. Bahkan di antara kami bertujuh pun, masih ada yang saling tidak suka, akan tetapi masih berusaha menerima kehadiran orang itu di sampingnya. Betapa perbedaan yang ada justru mampu membuat kami makin kuat dan menyayangi satu sama lain.
Tak lama kemudian, saya berada di aula SMA St. Theresia sebagai siswi SMA untuk yang terakhir kalinya. Ya, saya berada di acara prom night SMA. Malam yang menakjubkan. Banyak hal terjadi malam itu. Bahkan saya masih ingat rasanya menari waltz berpasangan dengan teman saya, bersama teman-teman yang lain. Berbagai kejadian duka dan suka, semua terjadi malam itu.
Lalu, tiba saatnya saya mencari tempat baru untuk menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi. Dari dulu, saya selalu ingin menjadi bagian dari Universitas Indonesia, meskipun saya tahu bahwa mimpi itu sulit digapai. Sekali lagi, tahun 2013 merupakan tahun yang penuh berkat. Saya lulus tes dan tak lama kemudian, saya resmi menyandang status mahasiswi fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2013.
Sejak saya menjadi mahasiswi, banyak hal dalam diri saya yang berubah. Saya menjadi lebih pendiam, lebih tertutup. Saya merasa ada bagian dari diri saya yang hilang. Saya lebih mudah kesepian. Entah itu karena saya mulai tinggal di kost, atau karena efek sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Akan tetapi, saya sadar bahwa saya menjadi lebih sensitif. Emosi saya justru lebih cepat memuncak. Saya tidak suka jika emosi itu mulai muncul. Apalagi, banyak hal baru yang tidak saya persiapkan sebelumnya akan terjadi. Saya mengalami sendiri adanya kendala dari perbedaan SARA dalam pergaulan, mengalami sendiri bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya putuskan dengan mudah, karena efeknya akan berbuntut panjang. Kadang, saya merasa tidak bahagia dengan pilihan-pilihan yang saya ambil saat saya sudah menjadi mahasiswi, namun terpaksa saya jalani karena topeng yang dinamakan komitmen. Kadang, saya ingin mengatakan, persetan dengan komitmen, saya ingin lari, saya ingin bebas. Ada beberapa kegiatan yang sama sekali tidak membuat saya bahagia. Kegiataan yang seharusnya menjadi penyaluran emosi, menjadi tempat saya untuk bersenang-senang, justru membuat saya merasa sesak napas, saya merasa dipenjara. Kegiatannya tidak salah, hanya saja saya kemudian sadar bahwa pilihan kegiatan itu tidak cocok dengan saya. Itu bukan kegiatan yang sesuai dengan minat saya. Akan tetapi, demi memuaskan pihak-pihak tertentu, saya mencoba bertahan.
Waktu cepat berlalu, dan saya tiba di bulan Desember. Bulan yang cukup berat untuk saya dan keluarga besar. Eyang saya sakit cukup kritis, membuat kami sekeluarga sedih dan tidak bisa merayakan perayaan Natal dan liburan dengan sepenuh hati, karena pikiran dan hati kami sedang berfokus pada kesembuhan eyang, dan masih terus berharap adanya keajaiban dan mukjizat dari Tuhan, hingga hari ini.
Tahun 2013 memang penuh dengan momen suka dan duka. Tentu, seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak cinta datang dan pergi. Ada beberapa wajah baru yang hadir cukup lama dan datang bergantian di hati saya, menjadi warna tersendiri di perjalanan hidup saya sepanjang tahun 2013. Mereka merupakan sosok-sosok perhatian yang membuat saya sadar betapa saya sangat dicintai dan saya tidak sendirian. Akan tetapi, sayangnya saya tidak mampu membuat beberapa dari mereka merasa dicintai balik oleh saya, dan akhirnya mereka terluka. Seandainya saya cukup berani menatap wajah mereka satu per satu, saya ingin katakan bahwa saya minta maaf dan berterimakasih atas hadirnya mereka yang saya percayai memang sudah waktunya. Toh pada akhirnya, saya tidak akan pernah mampu membuat semua orang senang dengan apa yang saya lakukan. Tidak hanya cinta yang saya rasakan sendiri. Di akhir tahun 2013 pun, saya melihat bentuk cinta yang sesungguhnya dari orang terdekat saya. Dari eyang saya dari Ibu. Sepasang orang tua, yang hidup bersama dengan kondisi tubuh yang kian melemah. Saya melihat bentuk cinta yang sesungguhnya dalam bentuk pelayanan. Saya melihat bagaimana eyang Putri saya begitu sabar menghadapi Eyang Kakung yang mulai sulit mendengar, mulai sakit-sakitan, dan mulai tergantung dengan orang lain. Padahal, Eyang Putri juga beranjak tua. Akan tetapi, ia berusaha tegar dan sehat demi dapat mengurus Eyang Kakung. Saya melihat bentuk nyata dari kesetiaan dan cinta mendalam, yang kemudian menjadi inspirasi saya.
Selain tentang cinta, saya juga merasakan bahwa persahabatan mahal sekali harganya. Benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa makin kita dewasa, maka pertemanan akan berbentuk seperti piramida. Makin lama semakin sedikit. Itulah yang saya alami. Makin hari, saya makin tahu siapa yang betul-betul merupakan sahabat saya. Yang selalu hadir dan ada pada waktu yang tepat. Yang mampu membuat pelangi sesudah hujan turun dari mata saya, yang selalu mampu membuat saya bahagia meskipun dengan cara-cara yang paling sederhana. Yang tidak menuntut saya macam-macam hal yang tidak mampu saya penuhi hanya untuk syarat menjadi teman mereka. Untuk itu, saya sangat bersyukur karena adanya mereka yang selalu mau berdoa untuk saya. Akan tetapi, bagi saya, sesungguhnya orang-orang yang paling membantu saya menjalani semua masa sulit dan bahagia di tahun 2013 yaitu keluarga saya. Manusia-manusia yang tidak pernah mengeluh dengan berbagai kondisi saya yang bisa tiba-tiba berubah mood dengan drastis, yang menyayangi saya tanpa adanya syarat dan batas. Pada akhirnya, saya berterimakasih pada Tuhan karena Ia lah yang memberikan saya semua kawan, semua cinta, keluarga, serta berkat melimpah yang boleh saya nikmati sepanjang tahun 2013.
Baiklah, itulah sedikit hal yang saya bagi mengenai perjalanan saya di tahun 2013. Saya masih berharap adanya perubahan baik dalam diri saya di tahun 2014. Akhir kata, untuk semua hal baik ataupun buruk yang terjadi di tahun 2013 dan semua orang yang terlibat di dalamnya, saya cuma ingin bilang, terimakasih. :)

-4 Januari 2013, dinihari-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar